Finnews.id – Pantai Gading menunjukkan mentalitas juara bertahan setelah bangkit dari ketertinggalan dua gol untuk mengalahkan Gabon dengan skor 3-2 pada Rabu malam. Gol telat Bazoumana Touré di masa injury time memastikan Les Éléphants melaju ke babak knockout sebagai jawara Grup F.
Drama di Marrakech ini bermula ketika Gabon mengejutkan pertahanan Pantai Gading lebih awal. The Panthers memimpin dua bola melalui aksi impresif Guélor Kanga dan Denis Bouanga. Namun, Jean‑Philippe Krasso memperkecil ketertinggalan tepat sebelum turun minum, yang menjadi titik balik kebangkitan sang juara bertahan.
Strategi Jitu Emerse Faé
Pelatih Pantai Gading, Emerse Faé, melakukan perubahan taktik yang krusial di babak kedua. Ia memasukkan tenaga baru untuk memecah dominasi Gabon. Strategi ini membuahkan hasil manis pada menit ke-84 saat Christopher Opéri mengirimkan umpan matang yang diselesaikan dengan sempurna oleh Evann Guessand.
Puncaknya, Opéri kembali menjadi kreator lewat asis keduanya yang disambut sundulan Touré untuk mengunci kemenangan. “Kami mengincar posisi pertama, dan para pemain bekerja sangat keras di babak kedua untuk mewujudkannya,” ujar Faé usai laga.
Persaingan Sengit dengan Kamerun
Kemenangan ini menempatkan Pantai Gading di posisi teratas Grup F meski memiliki poin (7) dan selisih gol (+2) yang sama dengan Kamerun. Kamerun sendiri sukses mengalahkan Mozambik 2-1 di laga lainnya. Berdasarkan statistik data turnamen, Pantai Gading berhak atas posisi puncak karena produktivitas gol yang lebih tinggi, yakni mencetak 5 gol berbanding 4 gol milik Kamerun.
Meskipun kalah, Mozambik tetap memastikan diri lolos ke babak 16 besar sebagai salah satu tim peringkat ketiga terbaik. Sementara itu, Gabon harus angkat koper lebih awal setelah gagal meraih poin dari tiga laga.
Simbol Kebangkitan Sudan di Tengah Konflik
Di Grup E, Sudan mencatatkan sejarah emosional. Meski kalah 0-2 dari Burkina Faso, Sudan tetap melaju ke babak 16 besar melalui jalur peringkat ketiga terbaik. Pencapaian ini tergolong luar biasa mengingat Sudan harus melakoni seluruh laga kualifikasi di luar negeri akibat krisis kemanusiaan dan perang di negaranya.