Home Internasional Bulgaria Resmi Gunakan Euro dan Tinggalkan Mata Uang Lev
Internasional

Bulgaria Resmi Gunakan Euro dan Tinggalkan Mata Uang Lev

Bagikan
Euro, Image: Moerschy / Pixabay
Bagikan

finnews.id – Bulgaria resmi gunakan euro dan tinggalkan mata uang lev sebagai alat pembayaran sah setelah perjalanan panjang yang penuh gejolak politik dan perdebatan publik.

Keputusan ini menjadikan Bulgaria anggota ke-21 zona euro, sebuah langkah besar bagi negara salah satu anggota Uni Eropa.

Pergantian mata uang tersebut bukan sekadar perubahan teknis, melainkan simbol arah baru Bulgaria dalam integrasi Eropa, dengan konsekuensi ekonomi, sosial, dan politik yang luas.

Langkah Strategis Setelah Integrasi Eropa Bertahap

Sejak bergabung dengan Uni Eropa pada 2007, Bulgaria secara konsisten menempatkan integrasi Eropa sebagai prioritas nasional. Negara ini lebih dulu masuk NATO, kemudian menjadi bagian dari Uni Eropa, menyusul keanggotaan Schengen, hingga akhirnya mengadopsi euro. Secara praktis, lev sebenarnya telah lama hidup berdampingan dengan mata uang Eropa. Sejak 1997, lev dipatok terhadap mata uang Eropa, pertama Deutschmark dan kemudian euro, sehingga stabilitas nilai tukar bukan hal baru bagi perekonomian Bulgaria.

Namun, adopsi resmi euro tetap membutuhkan pemenuhan kriteria ketat terkait inflasi, defisit anggaran, dan stabilitas fiskal. Otoritas Eropa menilai Bulgaria telah memenuhi syarat tersebut, membuka jalan bagi penerapan euro sebagai mata uang tunggal.

Masyarakat Bulgaria Terbelah

Meski pemerintah memandang euro sebagai simbol kemajuan, reaksi publik jauh dari seragam. Warga muda, masyarakat perkotaan, serta pelaku usaha cenderung menyambut positif. Mereka melihat euro sebagai peluang untuk memperluas perdagangan, menarik investasi asing, dan memperkuat posisi Bulgaria dalam ekonomi Eropa.

Sebaliknya, kelompok masyarakat yang lebih tua dan tinggal di wilayah pedesaan menunjukkan kekhawatiran mendalam. Lev bukan hanya alat tukar, melainkan simbol sejarah nasional sejak 1881. Ketakutan terhadap kenaikan harga, hilangnya kontrol ekonomi, serta keputusan yang dianggap dipaksakan tanpa referendum memperkuat penolakan. Survei menunjukkan opini publik terbelah hampir seimbang, mencerminkan ketegangan sosial yang menyertai perubahan besar ini.

Bagikan
Artikel Terkait
Internasional

Hiu 4 Meter Tewaskan Pria di Dekat Pulau Wisata Rottnest

finnews.id – Seorang pria berusia 38 tahun tewas setelah diserang hiu besar...

Internasional

Trump dan Xi Jinping Saling Puji saat Bertemu di Beijing

finnews.id – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dan Presiden China, Xi Jinping,...

Internasional

Xi Jinping Gelar Sambutan Besar untuk Trump di Beijing

finnews.id – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mendapat sambutan besar dari Presiden...

Internasional

Negara-negara Eropa Mulai Batasi Akses Media Sosial bagi Anak

finnews.id – Sejumlah negara di Eropa mulai memperketat aturan penggunaan media sosial...