5. Pernikahan

Menikah bukan hanya menyempurnakan separuh agama, tetapi juga membuka pintu rezeki baru.(QS An-Nūr: 32):

وَأَنكِحُوا ٱلْأَيَـٰمَىٰ مِنكُمْ وَٱلصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَآئِكُمْ ۚ إِن يَكُونُوا۟ فُقَرَآءَ يُغْنِهِمُ ٱللَّهُ مِن فَضْلِهِۦ ۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ

Wa ankihul-ayāmā minkum waṣ-ṣāliīna min ‘ibādikum wa imā’ikum, in yakūnū fuqarā’a yughnihimumullāhu min faḍlih, wallāhu wāsi‘un ‘alīm.(QS An-Nūr: 32)

Artinya:

“Kawinkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu dan orang-orang yang layak (untuk menikah) dari hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.”

Allah menjamin kecukupan bagi mereka yang menikah karena-Nya.

6. Buah dari usaha dan kerja keras

Islam mengajarkan pentingnya ikhtiar. Rezeki yang halal dan baik datang melalui usaha yang sungguh-sungguh.(QS An-Najm: 39):

وَأَن لَّيْسَ لِلْإِنسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ

Wa an laisa lil-insāni illā mā sa‘ā.(QS An-Najm: 39)

Artinya:

“Dan bahwa manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.”

Setiap keringat yang menetes di jalan halal bernilai ibadah di sisi Allah.

7. Datang dari arah yang tak disangka

Bagi mereka yang bertawakal, Allah membuka jalan rezeki dari arah yang tak terduga.(QS At-Ṭalāq: 3):

وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ بَـٰلِغُ أَمْرِهِۦ ۚ قَدْ جَعَلَ ٱللَّهُ لِكُلِّ شَىْءٍ قَدْرًا

Wa yarzuqhu min ḥaithu lā yaḥtasib, wa man yatawakkal ‘alallāhi fahuwa ḥasbuh, innallāha bālighu amrih, qad ja‘alallāhu likulli shay’in qadrā.(QS At-Ṭalāq: 3)

Artinya:

“Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya). Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.”

Inilah bukti bahwa kuasa Allah melampaui logika manusia.