Finnews.id – Pada 10 November 2025, mantan Presiden RI ke-2, Soeharto, resmi dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. Penghargaan ini memicu kembali perdebatan. Mulai warisan kepemimpinannya hingga simbol kekuasaan yang paling ikonik: uang kertas Rp 50.000 bergambar dirinya.

Uang ini diterbitkan oleh Bank Indonesia (BI) pada era 1990-an. Bukan hanya sekadar alat pembayaran. Tetapi juga representasi visual dari dominasi politik dan ekonomi Soeharto pada masa itu.

Di balik citra kekuasaan tersebut, tersembunyi berbagai fakta menarik, kontroversi. Bahkan kisah lucu yang mewarnai sejarah uang bergambar Soeharto.

Bagi generasi 90-an, nama Soeharto bukan hanya dikenal lewat pidato kenegaraan atau pembangunan jalan tol.

Tetapi juga terpampang jelas di uang kertas pecahan Rp50.000. Uang itu diterbitkan oleh Bank Indonesia (BI) saat Soeharto masih menjabat sebagai Presiden.

Edisi pertama dirilis tahun 1993. Disusul versi revisi pada 1995. Desainnya Soeharto mengenakan jas dan kopiah hitam khas kenegaraan.  Kala itu, uang ini dianggap simbol stabilitas ekonomi dan kebanggaan nasional.

“Uang bergambar presiden saat masih menjabat merupakan bentuk penghormatan negara atas kepemimpinan,” tulis arsip resmi BI tahun 1995.

Namun, pasca kejatuhannya tahun 1998, lembaran uang itu berubah makna. Banyak pedagang menolak uang bergambar Soeharto karena dianggap simbol Orde Baru yang runtuh.

Era Reformasi & Penolakan Simbol Soeharto

Setelah reformasi 1998, wajah Soeharto perlahan menghilang dari ruang publik. Monumen, patung, hingga foto-foto kenegaraan yang menampilkan dirinya banyak diturunkan.

Bahkan, uang bergambar Soeharto sempat tidak diterima sebagian pedagang dan Masyarakat. Terutama di wilayah perkotaan.

Fenomena sosial ini pernah menjadi bahan sindiran dalam dunia hiburan. Salah satunya oleh grup lawak Jayakarta yang digawangi Jojon dan kawan-kawan.

Dalam salah satu penampilannya, mereka membandingkan uang Rp50.000 bergambar Soeharto dengan uang Rp500 bergambar orang utan.

Namun, guyonan itu justru berbuntut Panjang. Grup lawak tersebut dikabarkan “dirumahkan” sementara karena dianggap menyinggung simbol negara.
Peristiwa ini menjadi cerminan kuat bagaimana figur Soeharto kala itu masih sangat sensitif untuk dibicarakan secara terbuka.

Kontroversi Penghargaan dan Respons Publik

Penetapan Soeharto sebagai Pahlawan Nasional menuai reaksi beragam di masyarakat. Sebagian pihak menilai gelar itu layak.