Polisi mengamankan satu terduga pelaku yang merupakan siswa di sekolah tersebut, namun kondisinya masih dalam perawatan intensif akibat luka parah di bagian tubuh dan kepala.

Pihak sekolah kini bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) untuk memulihkan kondisi fisik dan psikologis para siswa melalui layanan psikososial khusus.

Hasil penyelidikan sementara menunjukkan FN bertindak seorang diri (lone actor) tanpa dukungan jaringan teroris besar.

Motifnya diduga berkaitan dengan tekanan sosial, kondisi keluarga, serta ketertarikan berlebihan pada konten ekstrem di dunia maya.

“Fenomena ini menunjukkan bagaimana konten brutal di internet dapat memengaruhi mental dan perilaku seseorang,” ungkap Mayndra.

Densus 88 kini menggandeng ahli psikologi forensik dan pakar keamanan siber untuk menelusuri potensi dampak psikologis dari konsumsi konten kekerasan terhadap pola pikir pelaku.

“Kita harus bersama-sama melindungi generasi muda dari paparan konten yang merusak moral dan empati,” pungkas Mayndra.