“Kata Agartha sering digunakan dalam simbolisme kelompok neo-nazi modern. Biasanya dihubungkan dengan keyakinan tentang dunia tersembunyi dan supremasi ras tertentu.
Sementara angka 1189 diduga merujuk pada tahun dimulainya Perang Salib Ketiga. Simbol yang sering digunakan dalam propaganda kebencian terhadap Islam.
Juga ada Luca Triani dan 14 Words. Kombinasi simbol, angka dan nama ini menambah lapisan misteri atas motif di balik insiden SMAN 72.
Akibat ledakan keras itu, 54 orang mengalami luka-luka. Sebagian karena luka bakar dan serpihan.
Kapolda Metro Jaya Irjen Asep Edi Suheri menyatakan penyisiran lokasi dilakukan dengan sangat hati-hati.
“Kami tidak ingin berspekulasi sebelum hasil forensik keluar. Semua temuan, termasuk tulisan di senjata, sedang dianalisis mendalam,” jelas Asep.
Sementara itu, Wakil Menko Polhukam Lodewijk F. Paulus menegaskan senjata yang ditemukan bukan senjata api sungguhan.
“Itu airsoft gun. Bukan senjata asli. Namun kami tidak menyepelekan karena simbol-simbol yang ditemukan memiliki makna ideologis,” jelas Lodewijk yang pernah menjabat sebagai Danjen Kopassus ini.
Meski bukan senjata asli, temuan simbol terorisme dunia di sebuah lingkungan pendidikan menimbulkan kekhawatiran baru. Terutama potensi infiltrasi ideologi kekerasan di kalangan remaja.

Pelaku Diduga Kerap Dibully Siswa Lain
Ledakan tersebut diduga berasal dari bom Molotov. Diduga pelakunya seorang siswa yang kerap jadi korban bullying oleh siswa lain.
Saksi mata menyatakan terdapat tiga jenis bom rakitan di lokasi kejadian. Dua di antaranya berhasil meledak.
“Saya menduga siswa ini ingin balas dendam dan bunuh diri. Saya lihat ada tiga jenis bom. Tapi hanya dua yang meledak,” ujar Sela, siswa kelas XI SMAN 72, seperti dikutip dari Antara, Jumat, 7 November 2025.
Ledakan itu terjadi pada momen yang sangat krusial. Tepatnya saat jamaah telah selesai mendengarkan khutbah dan bersiap menunaikan shalat Jumat.