Home News Misteri Simbol di Ledakan SMA 72 Jakarta: Jejak “14 Words”, Agartha, dan Nama Brenton Tarrant serta Bissonnette
News

Misteri Simbol di Ledakan SMA 72 Jakarta: Jejak “14 Words”, Agartha, dan Nama Brenton Tarrant serta Bissonnette

Bagikan
simbol ekstrem “14 Words” dan Brenton Tarrant
Polisi tengah menyelidiki ledakan di SMA 72 Jakarta yang diduga dilakukan oleh pelajar berusia 17 tahun. Temuan tulisan “14 Words. For Agartha” dan “Brenton Tarrant: Welcome to Hell” membuka bab baru soal infiltrasi simbol ekstremisme global di dunia maya.Foto:IST
Bagikan

Kombinasi antara “14 Words” dan “For Agartha” menunjukkan adanya kemungkinan pelaku terpapar konten ideologis bercampur teori konspirasi dari ruang digital — forum-forum anonim, gim daring, atau media sosial berhaluan ekstrem.

“Brenton Tarrant: Welcome to Hell”

Nama Brenton Harrison Tarrant muncul dalam tulisan ketiga. Ia adalah pelaku penembakan brutal di dua masjid di Christchurch, Selandia Baru, pada Maret 2019 yang menewaskan 51 orang. Aksi terornya direkam secara langsung dan disebarkan ke media sosial, menjadikannya simbol bagi kelompok ekstremis sayap kanan global.

Kalimat “Welcome to Hell” dapat dimaknai sebagai bentuk glorifikasi terbalik — semacam penghormatan kepada figur ekstrem dengan cara yang sarkastik atau provokatif. Dalam konteks kasus SMA 72, penemuan tulisan itu bisa menandakan bentuk kekaguman, imitasi, atau sekadar pencarian identitas yang salah arah di kalangan remaja yang terpapar narasi ekstrem digital.

“Alexandre Bissonnette”

Kemudian Alexandre Bissonnette, adalah pelaku penembakan masjid di Kota Quebec, Kanada, pada tahun 2017 menewaskan 6 orang dan melukai 19 lainnya.

Aksi itu jadi salah satu serangan Islamofobia paling parah di Kanada, dan sejak itu, nama Bissonnette sering dijadikan simbol oleh komunitas ekstrem di internet dalam bentuk “hero worship” di forum gelap atau grup radikal.

Nama Brenton Tarrant dan Alexandre Bissonnette kemungkinan merupakan admiration atau pemujaan ideologis terhadap pelaku-pelaku teror anti-Muslim tersebut.

Penyelidikan Mendalam: Densus 88 dan Jejak Digital Pelaku

Temuan coretan spesifik pada barang bukti, menegaskan bahwa kasus ini tidak hanya sekadar insiden kekerasan biasa.

Guna mengungkap motif di balik paparan ideologi ekstremisme global tersebut, pihak kepolisian telah melibatkan Tim Densus 88 Antiteror Polri dan Tim Siber.

Penyelidikan kini berfokus pada pemetaan jejak digital pelaku—melacak forum-forum daring, gim, atau media sosial yang memungkinkan ideologi kebencian global menginfiltrasi pikiran remaja.

Pelaku, yang berstatus pelajar berusia 17 tahun dan kini dirawat karena luka serius, telah ditetapkan sebagai terduga pelaku dan menjalani pemeriksaan intensif untuk mengungkap motif utama di balik aksi kekerasan yang melukai puluhan siswa ini.

Bagikan
Written by
Lina Setiawati

Bergabung dengan FIN CORP di 2024, Lina Setiawati membawa pengalaman jurnalistik lebih dari dua dekade sejak tahun 2000. Spesialisasinya mencakup analisis berita olahraga, dinamika politik, hukum, kriminal, serta peristiwa nasional terkini.

Artikel Terkait
3 Titik Kemacetan di Jalur Puncak Bogor
News

Macet hingga 18 Km di Jalur Puncak, Ini Langkah Aparat Kepolisian

Sistem satu arah (one way) Penyekatan kendaraan Penutupan jalur menuju Puncak Rekayasa...

Alasan Prabowo kunjungan luar negeri
News

Presiden Prabowo Ungkap Alasan Sering ke Luar Negeri: Demi Lapangan Kerja dan Ekonomi

Aktifnya Indonesia di berbagai forum internasional seperti ASEAN, G20, hingga Organisasi Kerja...

News

Trik KAI Daop 8 Surabaya Atasi Lonjakan Penumpang

finnews.id – PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Operasi (Daop) 8 Surabaya...

News

Malam Takbiran Idul Fitri 1447 H: Polda Metro Jaya Kerahkan 1.810 Personel Amankan Jakarta

Idul Fitri 1447 H Jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026 Sebagai informasi,...