Catatan Dahlan Iskan

Hati Nikah

Bagikan
Transplantasi hati istri untuk suami di Beijing
Nisa (kanan), tiba di RS di Beijing.
Bagikan

MULYADI PEGE

Ayo ibu bapak pasangan2 muda kita disiplinkan anak anak kita dalam bermain daway, agar ketika di kelas, anak anak kita tidak mengantuk… Ayo ibu bapak guru, kita biasakan anak anak didik kita, maju ke meja guru satu persatu, agar kelak murid murid kita biasa antri.. Ayo ibu bapak guru, kita biasakan anak anak didik kita mengambil MBG dengan antri, agar kelak jadi budaya mereka.

Wilwa

@MZA. Kalau kita mau belajar dari sejarah, maka kita tahu bahwa setiap suku di Timur Tengah dulu kala punya tuhan/dewa nya sendiri-sendiri. Ironisnya adalah mereka saling memaksakan tuhan mereka masing-masing terhadap suku lain yang mereka kalahkan. Anda bisa baca sejarah Sumeria, Assyria, Babilonia, dll untuk itu. Jadi politik dan agama itu berkelindan satu sama lain. Itu sudah menjadi tradisi turun temurun di sana. Nah dalam kaitan Sunni-Syiah, tradisi yang sama juga mempengaruhinya. Masalah tuhan siapa / apa atau ajaran siapa / apa yang (paling) benar dan yang (paling) salah adalah masalah besar bagi mereka. Ummayah memberikan argumen bahwa Muhammad mashum dan Ali tidak adalah untuk justifikasi/pembenaran mereka untuk berkuasa. Dan menghabisi keluarga dan keturunan Muhammad. Dan menjelek-jelekkan Ali serta keturunannya dan memberi stigma kepada pengikut mereka sebagai partisan (=partai = Syiah, Shiah) dari Ali. Padahal Ummayah sendiri adalah partisan juga sebenarnya, kalau kita mau melihatnya secara objektif. Sejarah bergulir, Ummayah kemudian digulingkan Abbasiyah yang mengaku sebagai pihak dari keluarga besar Muhammad. Dan Abbasiyah membalaskan dendam kesumat keluarga besar Muhammad kepada keturunan Ummayah yang bukan keturunan keluarga besar Muhammad. Anda lihat? Semua itu awalnya dari konflik antar suku-suku atau klan-klan tapi kemudian politik perebutan kekuasaan itu dibumbui keyakinan agama. Itu salah satu opini yang pernah saya simak dari internet. Entahlah

Tivibox

Kalau diandaikan CHDI hari ini sebuah film, tulisan di atas baru permulaan saja walaupun di awal sempat ada cuplikan si pasien sudah bisa video call pasca operasi, yang mencerminkan inti cerita. Tapi, bagaimana proses setelah diketahui bahwa golongan darah yang cocok ternyata hanya si istri, sampai proses transplantasi di T belum diungkap dengan detail oleh penulis cerita. Tebakan saya, ini cerita bersambung. Dan menarik. Kita tunggu saja seri berikutnya. Semoga penulis ceritanya tidak ngambek. Apalagi setelah sarapan pumpkin rebus oleh-oleh dari Batu kemarin.

Bagikan
Written by
Lina Setiawati

Bergabung dengan FIN CORP di 2024, Lina Setiawati membawa pengalaman jurnalistik lebih dari dua dekade sejak tahun 2000. Spesialisasinya mencakup analisis berita olahraga, dinamika politik, hukum, kriminal, serta peristiwa nasional terkini.

Artikel Terkait
Catatan Dahlan Iskan

Ibadah Stres

Oleh: Dahlan Iskan Kalau saja permintaan MSCI dipenuhi,apa saja yang akan berubah...

Catatan Dahlan Iskan

PT Bukan

Muara dari demutualisasi tersebut adalah independensi dan keterbukaan pasar modal. Bukan lagi...

Catatan Dahlan Iskan

Agak Laen

Dengan pengunduran diri masal itu persoalan kian rumit. Bisa hancur sampai fondasinya....

Catatan Dahlan Iskan

Cherokee Marlaina

Alberta memang sangat kesal atas sikap pemerintah federal. Lebih kesal lagi pada...