finnews.id – Ratusan warga Greenland menggelar aksi demonstrasi di pusat kota Nuuk untuk memprotes pembukaan konsulat baru Amerika Serikat di wilayah tersebut. Aksi itu berlangsung di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap ambisi Presiden AS Donald Trump yang kembali menyoroti pentingnya Greenland bagi kepentingan strategis Amerika.
Massa berjalan melewati jalan utama Nuuk sambil membawa poster bertuliskan “Greenland Bukan untuk Dijual” dan “Make America Go Away”. Demonstran juga meneriakkan slogan “Greenland untuk Greenlanders” sebagai bentuk penolakan terhadap campur tangan asing.
Aksi tersebut bertepatan dengan kunjungan utusan khusus Trump untuk Greenland, Jeff Landry, yang datang untuk menghadiri agenda diplomatik dan bisnis di wilayah semi-otonom milik Denmark itu.
Konsulat Baru AS Jadi Simbol Ketegangan
Pembukaan gedung konsulat baru Amerika Serikat menjadi perhatian besar warga lokal. Gedung diplomatik berukuran jauh lebih besar dibanding kantor sebelumnya itu berdiri di kawasan pusat Nuuk dan oleh sebagian warga dijuluki “Trump Towers”.
Bagi banyak warga Greenland, pembangunan konsulat tersebut dianggap bukan sekadar langkah diplomatik biasa, melainkan simbol meningkatnya pengaruh Washington di kawasan Arktik.
Situasi semakin sensitif setelah beberapa pejabat penting Greenland memilih tidak menghadiri acara peresmian. Perdana Menteri Greenland Jens-Frederik Nielsen termasuk di antara tokoh yang menolak hadir sebagai bentuk sikap politik terhadap pendekatan Amerika Serikat.
Pernyataan Utusan Trump Picu Kontroversi
Jeff Landry selama kunjungannya disebut mencoba membangun hubungan lebih dekat dengan pejabat Greenland dan komunitas bisnis lokal. Namun sejumlah pernyataannya justru memicu kontroversi.
Dalam wawancara dengan media lokal Sermitsiaq, Landry menyebut Greenland bisa memiliki ekonomi yang lebih kuat apabila menjadi negara independen. Pernyataan itu memunculkan kekhawatiran baru bahwa Amerika Serikat sedang berupaya mempengaruhi arah politik Greenland.
Saat ditanya mengenai batas kedaulatan Greenland, Landry juga melontarkan kalimat yang menuai kritik.
“Hanya ada satu garis bagi kami. Warnanya merah, putih, dan biru,” ujarnya, merujuk pada warna bendera Amerika Serikat.
Pernyataan tersebut dianggap sebagian warga sebagai bentuk tekanan simbolik terhadap Greenland.