finnews.id – Pemerintah Inggris mengumumkan pengerahan drone, jet tempur, dan kapal perang untuk mendukung misi internasional yang bertujuan menjaga keamanan pelayaran di Selat Hormuz. Langkah ini diumumkan di tengah ketegangan yang masih berlangsung antara Iran dan Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Menteri Pertahanan Inggris, John Healey, menyampaikan bahwa kontribusi tersebut akan menjadi bagian dari operasi multinasional yang melibatkan lebih dari 40 negara. Misi itu disebut bersifat defensif dan difokuskan untuk menjaga jalur perdagangan global tetap aman.
Selat Hormuz menjadi perhatian dunia karena merupakan salah satu jalur distribusi minyak dan gas alam cair paling penting di dunia. Sekitar 20 persen pasokan minyak global melewati perairan sempit tersebut setiap harinya. Gangguan di kawasan itu telah memicu kenaikan harga energi internasional dalam beberapa bulan terakhir.
Drone dan Jet Typhoon Disiapkan untuk Patroli Udara
Dalam pengumumannya, Inggris menyebut akan mengerahkan berbagai sistem pertahanan modern, termasuk drone pencari ranjau laut, kapal tanpa awak, serta jet tempur Typhoon untuk patroli udara di kawasan strategis tersebut.
Kementerian Pertahanan Inggris juga memastikan kapal perusak HMS Dragon yang saat ini menuju Timur Tengah akan disiapkan untuk mendukung operasi pengamanan Selat Hormuz apabila diperlukan. Selain itu, kapal RFA Lyme Bay juga tengah menjalani peningkatan sistem dan perlengkapan militer.
John Healey menegaskan bahwa operasi tersebut dirancang untuk meningkatkan rasa aman bagi kapal-kapal dagang internasional yang melintasi kawasan itu.
Ia mengatakan bahwa misi bersama sekutu akan dijalankan secara defensif, independen, dan kredibel untuk menjaga stabilitas jalur perdagangan global.
Ketegangan Iran dan Amerika Serikat Masih Membayangi
Situasi di Selat Hormuz terus memanas setelah Iran dan Amerika Serikat saling menuduh melakukan tindakan agresif di kawasan tersebut. Iran sebelumnya memperketat kontrol di Selat Hormuz sebagai respons terhadap serangan Amerika Serikat dan Israel.
Di sisi lain, Washington disebut memperketat blokade terhadap pelabuhan Iran guna meningkatkan tekanan terhadap Teheran. Kondisi itu membuat hubungan kedua negara semakin tegang meskipun gencatan senjata telah berlaku sejak April lalu.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahkan menyebut gencatan senjata tersebut berada dalam kondisi “sangat rapuh” dan masih berisiko runtuh sewaktu-waktu.
Ketidakpastian itu membuat negara-negara Barat mulai meningkatkan kesiapan militer mereka untuk menjaga stabilitas perdagangan internasional, khususnya pasokan energi global yang sangat bergantung pada Selat Hormuz.