Finnews.id – Jakarta – Sebuah karya sinematik terbaru berjudul “Tanah Runtuh” siap menggebrak emosi penonton dengan narasi yang jarang disentuh.
Bukan film horor mistis, namun kengerian yang ditawarkan jauh lebih nyata dan menyesakkan dada: kengerian dari trauma konflik masa lalu yang terus menghantui dan menghancurkan sebuah keluarga dari dalam.
Film ini ditolak sebagai dokumentasi perang atau konflik politik.
Sebaliknya, “Tanah Runtuh” menggunakan pendekatan yang sangat personal dengan menempatkan fokus pada dinamika dan luka batin satu keluarga yang terjebak dalam tragedi pusaran.
Penonton diajak menyelami bagaimana ketakutan, kehilangan, dan kenangan pahit bertahun-tahun silam masih mampu meruntuhkan sendi-sendi kehidupan mereka saat ini, layaknya tanah yang longsor tanpa peringatan.
Kisah “Tanah Runtuh” menjadi cermin bagi banyaknya korban konflik yang tak bersuara, yang lukanya tak pernah benar-benar sembuh meski damai telah dinyatakan. Sinema ini menjadi pengingat kuat bahwa dampak paling mengerikan dari suatu pertikaian bukanlah pada infrastruktur yang hancur, melainkan pada psikologis manusia yang tersisa.
“Kami ingin menunjukkan bahwa di balik angka-angka statistik korban konflik, ada cerita-cerita personal yang hancur.
‘Tanah Runtuh’ adalah surat cinta sekaligus ratapan bagi mereka yang harus hidup dengan hantu trauma setiap hari,” ungkap film ini dalam sesi wawancara eksklusif.
Film ini diprediksi tidak hanya akan meraih kesuksesan di box office, tetapi juga akan menjadi bahan diskusi penting mengenai kesehatan mental dan proses pemulihan bagi penyintas konflik.
Film produksi Denny Siregar Production itu merilis trailer dan poster perdana, Jumat, 8 Mei 2026. Sutradara Rudi Soedjarwo menghadirkan drama kemanusiaan bernuansa emosional.
Cerita mengikuti perjalanan Kai dan kakaknya, Ringgo, penyandang Down Syndrome. Keduanya terpisah dari ibu mereka saat konflik melanda sebuah wilayah Indonesia.
Dalam pengungsian, mereka bertemu Idham yang diperankan Vino G. Bastian. Awalnya, Idham hanya menjalankan tugas menangani konflik di wilayah tersebut.