finnews.id – Bursa Pagi 24 April 2026 dibuka dengan tekanan besar dari pasar global. Lonjakan harga minyak dunia, memanasnya konflik Amerika Serikat dan Iran, serta penguatan dolar membuat sentimen investor memburuk. Dampaknya langsung terasa dari Wall Street hingga pasar Asia, termasuk Indonesia.
Pelaku pasar menilai peluang perdamaian semakin tipis setelah pernyataan dan aktivitas Presiden :contentReference[oaicite:0]{index=0} di media sosial memperkeruh situasi. Di saat yang sama, blokade di Selat Hormuz masih berlangsung, sehingga memperbesar risiko terhadap pasokan energi global.
Wall Street Terkoreksi, Asia Ikut Melemah
Indeks saham Amerika Serikat bergerak beragam. S&P 500 turun 0,4%, mencerminkan kekhawatiran investor terhadap ketidakpastian global. Namun, Nasdaq futures justru naik 0,7% setelah laporan keuangan :contentReference[oaicite:1]{index=1} mendorong lonjakan saham hingga 20% di perdagangan after market.
Sementara itu, bursa Asia tidak mampu bertahan dari tekanan. Indeks ASX dan KOSPI masing-masing melemah 0,2% dan 0,1%. Investor cenderung menahan aksi sambil menunggu perkembangan konflik geopolitik.
Harga Minyak Melonjak, Jadi Pemicu Utama
Kenaikan harga energi menjadi faktor dominan dalam pergerakan pasar. Minyak Brent melonjak sekitar 4% hingga menembus level USD106 per barel. Posisi ini hanya sekitar 3% di bawah level sebelum gencatan senjata AS-Iran dimulai.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa pasar masih sangat sensitif terhadap gangguan pasokan. Selat Hormuz sebagai jalur vital distribusi minyak dunia kembali menjadi titik krusial yang menentukan arah harga energi.
Rupiah Cetak Rekor Terendah Sepanjang Sejarah
Indonesia menjadi salah satu yang paling terdampak. Nilai tukar rupiah melemah tajam akibat kombinasi tekanan global dan kekhawatiran domestik.
Pada perdagangan sebelumnya, rupiah turun 115 poin terhadap dolar AS. Tekanan berlanjut pada pagi hari dengan pelemahan tambahan 50 poin, sehingga menyentuh level Rp17.337 per dolar AS—rekor terendah sepanjang sejarah.