Pelemahan ini dipicu kekhawatiran terhadap kondisi fiskal. Lonjakan harga minyak berpotensi meningkatkan beban subsidi energi, yang akhirnya menekan anggaran negara.
Obligasi Dijual, Yield Naik
Tekanan tidak hanya terjadi di pasar valuta asing. Di pasar obligasi, yield surat utang pemerintah tenor 10 tahun naik 8 basis poin ke level 6,71%.
Kenaikan ini mencerminkan aksi jual investor di pasar obligasi. Investor cenderung mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman di tengah ketidakpastian global.
IHSG Terpukul Outflow Asing
Di pasar saham domestik, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 2,2%. Tekanan berasal dari arus keluar dana asing sebesar Rp1,36 triliun di pasar reguler.
Outflow ini menunjukkan bahwa investor global mulai mengurangi eksposur terhadap pasar emerging market, termasuk Indonesia, akibat risiko global yang meningkat.
Pasokan Minyak Alternatif dari Rusia
Di tengah ketatnya pasokan energi global, pemerintah menyebut Rusia siap mengirimkan 150 juta barel minyak ke Indonesia dengan harga khusus. Langkah ini diharapkan dapat membantu menjaga stabilitas pasokan energi dalam negeri.
Kinerja BBCA Tetap Solid di Tengah Tekanan
Dari sisi korporasi, :contentReference[oaicite:2]{index=2} (BBCA) mencatat kinerja yang masih positif. Pada kuartal I 2026, laba bersih mencapai Rp14,7 triliun atau tumbuh 4% secara tahunan.
Pertumbuhan ini didukung oleh kenaikan pendapatan non-bunga sebesar 16% serta laba pra-pencadangan (PPOP) yang naik 5%. Namun, tekanan mulai terlihat pada Margin Bunga Bersih (NIM) yang turun 40 basis poin ke level 5,4%.
Selain itu, cost of credit naik menjadi 60 basis poin sebagai bentuk kehati-hatian, terutama di segmen konsumer dan UMKM. Pertumbuhan kredit tercatat moderat di level 6% akibat penurunan kredit kendaraan bermotor sebesar 20%.
Meski demikian, valuasi saham BBCA dinilai menarik dengan rasio 2,7x price to book value dan 13,0x price to earnings untuk proyeksi 2026, lebih rendah dari rata-rata historis 10 tahun.
Agenda Korporasi dan Ekonomi Jadi Perhatian
Sejumlah agenda korporasi juga menjadi fokus pasar. Pada 24 April, emiten seperti TLDN, UNTR, TOBA, dan BTPS memasuki cum date dividen. Selain itu, beberapa perusahaan menggelar RUPS, termasuk TLKM.