Home Kurs Iran Kabur dari Meja Perundingan, Rupiah Langsung Nyungsep ke Level Rp17.161 Per Dolar AS
Kurs

Iran Kabur dari Meja Perundingan, Rupiah Langsung Nyungsep ke Level Rp17.161 Per Dolar AS

Bagikan
Rupiah melemah ke Rp17.161 setelah Iran tolak runding dengan AS di Pakistan. Investor tunggu hasil RDG BI di tengah blokade Selat Hormuz oleh Trump
Rupiah melemah ke Rp17.161 setelah Iran tolak runding dengan AS di Pakistan. Investor tunggu hasil RDG BI di tengah blokade Selat Hormuz oleh Trump
Bagikan

finnews.id – Kabar mengejutkan datang dari panggung geopolitik Timur Tengah yang bikin pasar keuangan domestik bergetar hebat pagi ini! Kamu yang sering memantau nilai tukar mata uang harus siap-siap, karena rupiah baru saja tersungkur setelah muncul berita bahwa Iran melakukan walk out atau menolak menghadiri kelanjutan perundingan damai dengan Amerika Serikat di Pakistan. Dampaknya? Mata uang Garuda kita langsung loyo menghadapi keperkasaan dolar AS.

Pada Rabu pagi (22/4/2026), rupiah langsung dibuka melemah terbatas. Berdasarkan data terbaru, rupiah kini sedang bertarung di level Rp17.161 per dolar AS. Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 19 poin atau sekitar 0,11 persen jika kita bandingkan dengan posisi penutupan Selasa kemarin yang masih nangkring di Rp17.142. Gejolak ini tentu bikin investor ketar-ketir dan memilih mode wait and see sambil memantau perkembangan dari markas besar Bank Indonesia.

Timur Tengah Makin Panas: Trump Blokade Selat Hormuz, Iran Ogah Negosiasi

Kenapa situasi ini bisa terjadi? Ternyata, meskipun Presiden AS Donald Trump sudah memperpanjang gencatan senjata tanpa batas waktu, Iran justru menunjukkan sikap keras. Teheran menolak mentah-mentah untuk kembali ke meja perundingan di Pakistan. Ketidakhadiran Iran ini menjadi sentimen negatif yang sangat kuat dan menekan kurs rupiah ke zona merah.

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyebutkan bahwa perkembangan di Timur Tengah saat ini sangat rumit. Iran merasa tidak memiliki alasan lagi untuk berunding karena Trump terus mengeluarkan pernyataan provokatif dengan syarat-syarat yang hampir mustahil untuk mereka terima. Ketidakpastian ini membuat aset-aset di negara berkembang, termasuk Indonesia, menjadi kurang menarik bagi para pemilik modal global.

Blokade Selat Hormuz Masih Berlaku, Nadi Minyak Dunia Terancam

Satu hal yang wajib kamu waspadai adalah kebijakan Washington yang tetap mempertahankan blokade laut di Selat Hormuz. Kamu perlu tahu bahwa jalur perairan ini adalah titik paling krusial di dunia karena menjadi jalur utama bagi seperlima pengiriman minyak mentah global. Selama blokade ini belum dibuka, harga energi akan terus dihantui ketidakpastian tinggi.

Trump memang menunda serangan militer baru sebagai respons atas permintaan pemerintah Pakistan, demi memberikan ruang bagi proses diplomatik. Namun, tanpa adanya proposal baru dari Teheran, kebuntuan ini bisa pecah menjadi aksi militer kapan saja. Inilah yang membuat pasar merasa tidak nyaman dan lebih memilih memegang dolar AS sebagai aset aman (safe haven).

Investor Menanti Hasil RDG Bank Indonesia: Akankah Ada Kejutan Suku Bunga?

Di tengah tekanan eksternal yang begitu dahsyat, mata seluruh pelaku pasar kini tertuju pada hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang akan diumumkan sore ini. Keputusan BI mengenai suku bunga acuan akan menjadi penentu apakah rupiah bisa kembali bangkit atau justru semakin terperosok lebih dalam.

Analis memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp17.100 hingga Rp17.200 per dolar AS sepanjang hari ini. “Investor sedang menunggu hasil RDG BI, sehingga pergerakan rupiah kemungkinan besar akan berkonsolidasi datar dengan potensi pelemahan yang masih terbatas,” ujar Lukman Leong. Keputusan BI nanti akan sangat krusial untuk memberikan kepastian di tengah badai geopolitik yang belum mereda.

Tips Menghadapi Volatilitas Mata Uang untuk Kamu

Bagi kamu yang memiliki kebutuhan transaksi dalam mata uang asing atau sedang berinvestasi, sebaiknya tetap tenang namun tetap waspada. Fluktuasi nilai tukar akibat berita Iran walk out ini menunjukkan betapa sensitifnya ekonomi kita terhadap isu global. Pantau terus kanal berita resmi dan pastikan kamu tidak mengambil keputusan finansial secara terburu-buru sebelum ada kepastian dari otoritas moneter kita.

Stabilitas ekonomi nasional sangat bergantung pada bagaimana pemerintah dan Bank Indonesia merespons dinamika gila-gilaan dari Timur Tengah ini. Mari kita berharap ada solusi diplomatik yang lebih cerah agar rupiah kembali perkasa dan beban ekonomi masyarakat tidak semakin berat akibat lonjakan harga barang impor maupun energi. (*)

Bagikan
Artikel Terkait
Dolar AS capai level tertinggi sepekan akibat konflik AS-Iran di Selat Hormuz dan data ekonomi AS yang kuat. Euro dan Yen Jepang melemah tajam!
Kurs

Dolar AS Ngamuk ke Level Tertinggi! Euro dan Yen Babak Belur Gara-Gara Selat Hormuz Makin Mencekam

finnews.id – Waspada buat kamu yang sering transaksi pakai mata uang asing!...

Kurs

IHSG Tersungkur di Zona Merah, Rupiah Justru Perkasa! Sentimen Global dan Keputusan MSCI Bikin Pasar Berguncang

finnews.id – Pasar keuangan Indonesia menghadapi dinamika kontras pada perdagangan Selasa (21/4/2026). Indeks...

Nilai Tukar Rupiah
Kurs

Rupiah Perkasa Atas Dolar AS, Menguat 25 Poin ke Rp17.143

finnews.id – Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan penguatan pada penutupan perdagangan Selasa....

Kurs

Simulasi Cicilan KUR BRI 2026 Plafon Rp300 Juta: Bunga Rendah, Tenor hingga 5 Tahun

finnews.id – Pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) masih sering membentur...