finnews.id – Musim haji 2026 diperkirakan berlangsung dalam kondisi cuaca ekstrem dengan suhu tinggi di Makkah dan Madinah. Temperatur pada siang hari diprediksi mencapai 42 derajat Celsius, bahkan berpotensi lebih tinggi di area terbuka.
Data dari Saudi National Center for Meteorology menunjukkan bahwa periode Mei hingga Juni merupakan fase terpanas dalam siklus tahunan di wilayah Arab Saudi.
Kondisi tersebut menjadi perhatian serius karena berpotensi memengaruhi kesehatan jutaan jemaah haji dari berbagai negara, termasuk Indonesia.
Risiko Kesehatan Meningkat
Paparan suhu tinggi dalam waktu lama dapat memicu gangguan kesehatan, salah satunya Heat Stroke. Kondisi ini terjadi ketika tubuh tidak mampu mengatur suhu akibat panas berlebih.
Gejala yang umum dialami antara lain:
- Pusing
- Mual dan muntah
- Tubuh lemas
- Kulit kering dan memerah
- Detak jantung meningkat
Jika tidak ditangani dengan cepat, kondisi ini dapat berkembang menjadi kelelahan panas hingga berisiko fatal.
Jemaah Diminta Waspada
Karakter iklim gurun di kawasan Hijaz yang panas dan kering membuat risiko dehidrasi meningkat, terutama saat aktivitas ibadah dilakukan di ruang terbuka.
Sejumlah pihak mengimbau jemaah untuk meningkatkan kewaspadaan serta menjaga kondisi fisik selama menjalankan rangkaian ibadah haji.
Langkah Antisipasi
Untuk mengurangi risiko dampak cuaca ekstrem, jemaah disarankan melakukan sejumlah langkah pencegahan, antara lain:
- Memperbanyak konsumsi air secara berkala
- Menggunakan pakaian yang ringan dan menyerap keringat
- Menghindari aktivitas berat di siang hari
- Menggunakan pelindung seperti payung atau topi
- Mengatur waktu ibadah pada malam atau dini hari
Selain itu, istirahat yang cukup menjadi faktor penting untuk menjaga daya tahan tubuh.
Persiapan Sejak Sebelum Berangkat
Persiapan menghadapi musim haji tidak hanya dilakukan saat berada di Tanah Suci, tetapi juga sejak di negara asal. Jemaah diimbau untuk menjaga kesehatan, berolahraga ringan, serta memahami kondisi cuaca yang akan dihadapi.
Panduan dari Kementerian Agama Republik Indonesia menekankan pentingnya kesiapan fisik, mental, dan pengetahuan sebagai bekal utama menjalankan ibadah haji.
Ibadah Tetap Bisa Berjalan Optimal
Meski dihadapkan pada suhu ekstrem, ibadah haji tetap dapat dijalankan dengan baik selama jemaah mampu beradaptasi dan menjaga kondisi tubuh.
Cuaca panas menjadi salah satu tantangan yang harus diantisipasi agar seluruh rangkaian ibadah dapat berlangsung aman dan lancar.