finnews.id – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim kemarau di Provinsi Banten akan terjadi pada Juli hingga Agustus 2026. Menyikapi hal ini, masyarakat diminta mulai bersiap sejak dini, terutama dengan menghemat penggunaan air bersih.
Ketua Bidang Meteorologi dan Klimatologi BBMKG Wilayah II Banten, Nely Ramah Kurniawati, menegaskan bahwa musim kemarau tahun ini berpotensi lebih kering dan berlangsung lebih lama.
“Masyarakat diminta untuk mulai bersiap menghadapi musim kemarau yang berpotensi lebih kering. Kami mengimbau untuk menghemat penggunaan air bersih serta mewaspadai potensi kekeringan dan kebakaran lahan,” kata Nely di Serang, Selasa, 7 April 2026, dikutip Antara.
Pengaruh El Nino Picu Kemarau Lebih Kering
BMKG menjelaskan bahwa kondisi kemarau tahun ini dipengaruhi fenomena El Nino. Dampaknya, curah hujan cenderung berkurang sehingga risiko kekeringan meningkat.
Selain itu, perubahan pola cuaca ini juga bisa memperpanjang durasi musim kering di sejumlah wilayah Banten. Karena itu, kesiapan masyarakat menjadi kunci untuk mengurangi dampak yang mungkin terjadi.
Masa Pancaroba Masih Berlangsung hingga Awal Juni
Secara bertahap, wilayah Banten mulai memasuki musim kemarau sejak akhir Maret hingga Juni. Namun, saat ini kondisi masih berada dalam masa peralihan atau pancaroba yang diperkirakan berlangsung hingga awal Juni 2026.
Dalam periode ini, cuaca cenderung tidak stabil. Meski kemarau mulai terasa, hujan deras masih berpotensi terjadi, terutama pada sore hingga malam hari.
Hujan Lebat Masih Bisa Terjadi, Ini Penyebabnya
BMKG mengungkapkan bahwa hujan di masa pancaroba dipicu oleh kombinasi suhu panas dan kelembapan udara yang tinggi, yaitu sekitar 60 hingga 95 persen.
“Kondisi panas terik memicu penguapan air secara intensif yang mengangkat massa udara hangat dan lembap ke atmosfer. Proses konveksi ini membentuk awan Cumulonimbus yang memicu hujan lebat disertai kilat dan angin kencang,” jelasnya.
Kondisi ini membuat masyarakat perlu tetap waspada terhadap perubahan cuaca yang terjadi secara cepat.
Waspada Banjir Sekaligus Kekeringan
BMKG mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan ganda. Di satu sisi, potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir lintasan masih bisa terjadi, terutama di wilayah rawan seperti Kabupaten Pandeglang dan Lebak.
Di sisi lain, masyarakat juga harus mulai bersiap menghadapi potensi krisis air saat puncak kemarau tiba.
Langkah sederhana seperti menghemat air, menyimpan cadangan air, dan menjaga lingkungan bisa membantu mengurangi dampak kekeringan.
Pantau Informasi Cuaca Secara Berkala
BMKG juga mendorong masyarakat untuk aktif memantau perkembangan cuaca melalui kanal resmi. Informasi terkini dapat membantu warga mengambil keputusan yang tepat dalam aktivitas sehari-hari.
“Untuk memantau kondisi terkini, warga dapat mengecek prakiraan cuaca Provinsi Banten di media sosial @bmkgwilayah2 secara berkala,” ucap Nely.