finnews.id – Operasi penyelamatan paling nekat dalam sejarah militer modern Amerika Serikat baru saja berakhir dengan kesuksesan dramatis. Kopilot jet tempur-pengebom F-15E Strike Eagle yang jatuh di wilayah Iran akhirnya berhasil dievakuasi. Saat ini, perwira militer tersebut sudah berada di Kuwait untuk menjalani perawatan medis intensif setelah melewati masa kritis di wilayah musuh.
Kopilot yang bertugas sebagai petugas sistem persenjataan (WSO) ini menjadi pusat perhatian dunia setelah pesawatnya jatuh pada Jumat lalu. Meskipun mengalami sejumlah luka akibat proses pelontaran diri (eject), Presiden AS Donald Trump memastikan kondisi sang prajurit kini sudah stabil. Keberhasilan ini sekaligus mengakhiri ketidakpastian nasib awak pesawat yang sempat diklaim telah ditawan oleh pasukan Teheran.
Misi Penyelamatan Mustahil: Ratusan Personel dan Teknologi Luar Angkasa
Presiden Donald Trump memuji habis-habisan tim penyelamat yang terlibat dalam misi ini. Ia menggambarkan operasi dua hari tersebut sebagai aksi pencarian dan penyelamatan paling berani yang pernah dilakukan Negeri Paman Sam. Skala operasi ini pun tidak main-main karena melibatkan koordinasi lintas dimensi yang sangat rumit.
Laporan dari New York Times mengungkapkan bahwa Washington mengerahkan ratusan personel pasukan khusus dan puluhan pesawat tempur. Tidak hanya itu, militer AS juga mengaktifkan aset pengintaian dari luar angkasa serta kekuatan siber untuk memantau setiap jengkal pergerakan di darat. “Salah satu operasi paling berani dalam sejarah kita,” tegas Trump dalam pengumumannya pada Sabtu malam.
Siasat ‘Cerdik’ CIA: Mengecoh Garda Revolusi Iran
Di balik keberhasilan fisik di lapangan, terdapat perang urat syaraf yang dijalankan oleh Central Intelligence Agency (CIA). Lembaga intelijen tersebut ternyata memainkan peran krusial dengan melancarkan kampanye disinformasi atau tipu muslihat. CIA sengaja menyebarkan narasi bahwa pilot telah diselamatkan melalui jalur darat untuk memancing perhatian militer Iran ke arah yang salah.