finnews.id – Situasi di jalur pelayaran paling krusial dunia kini semakin memanas. Pemerintah Iran secara tegas menyatakan bahwa Selat Hormuz akan tetap berfungsi bagi aktivitas pelayaran global. Namun, mereka memberikan catatan merah: jalur ini akan “tertutup” rapat bagi negara-negara yang mereka anggap sebagai musuh beserta pangkalan militer mereka di kawasan tersebut.
Pernyataan ini muncul langsung dari Ali Akbar Velayati, penasihat pemimpin tertinggi Iran. Melalui platform media sosial X, Velayati menekankan bahwa hasil akhir dari ketegangan yang terjadi saat ini akan ditentukan oleh strategi matang Teheran, bukan oleh klaim sepihak dari pihak lawan.
“Selat Hormuz terbuka untuk dunia, tetapi akan tetap tertutup bagi musuh rakyat Iran dan pangkalan mereka di kawasan,” tegas Velayati dalam pernyataannya, Kamis, 2 April 2026, dikutip Anadolu.
Iran Sebut Klaim Lawan Hanya Sebuah “Ilusi”
Velayati juga membalas narasi yang berkembang di pihak lawan dengan menyebutnya sebagai sebuah euforia semu. Ia meyakini bahwa otoritas Iran tetap memegang kendali penuh atas arah konflik yang sedang berlangsung.
“Perang akan berakhir dengan strategi dan otoritas Iran, bukan dengan euforia dan ilusi para agresor,” ujarnya menambahkan.
Pernyataan keras dari Teheran ini muncul hanya berselang beberapa jam setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memberikan pidato dari Gedung Putih. Dalam pidatonya, Trump mengeklaim bahwa kekuatan militer Iran sudah jauh melemah. Trump menyebut Iran hanya memiliki “sangat sedikit” peluncur rudal yang tersisa, serta menyatakan bahwa kemampuan peluncuran drone dan rudal mereka telah “berkurang drastis.”
Bahkan, Trump memprediksi bahwa peperangan ini mungkin hanya akan berlanjut selama dua hingga tiga pekan ke depan karena ia merasa konflik tersebut sudah mendekati akhir.
Kendali Efektif Jalur Energi Dunia
Hingga saat ini, Teheran memang masih mempertahankan kendali efektif atas Selat Hormuz. Jalur ini merupakan urat nadi penting bagi pasokan energi global, terutama bagi negara-negara di Asia. Dalam praktiknya, Iran tetap mengizinkan kapal-kapal dari negara yang mereka kategorikan sebagai “negara sahabat” untuk melintas tanpa gangguan.
Namun, ketegangan di kawasan ini sebenarnya sudah mencapai titik didih sejak 28 Februari lalu. Saat itu, Israel dan Amerika Serikat meluncurkan operasi militer gabungan terhadap Iran. Serangan besar tersebut memakan korban jiwa yang sangat banyak, yakni lebih dari 1.340 orang tewas, termasuk pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei.
Dampak Serangan Balasan dan Gangguan Global
Pasca serangan gabungan tersebut, Iran tidak tinggal diam. Mereka melancarkan aksi balasan menggunakan gelombang drone dan rudal yang menargetkan berbagai titik strategis. Serangan balasan ini menyasar Israel, Yordania, Irak, hingga negara-negara Teluk yang menampung aset militer Amerika Serikat.
Dampak dari saling serang ini tidak hanya menyebabkan kerusakan infrastruktur dan jatuhnya korban jiwa di berbagai sisi, tetapi juga mengacaukan stabilitas ekonomi dunia. Pasar global mengalami guncangan hebat dan jadwal penerbangan internasional di kawasan tersebut terus terganggu. Dunia kini terus memantau apakah Selat Hormuz benar-benar akan menjadi titik penentu berakhirnya perang sesuai strategi yang direncanakan oleh Iran.