Catatan Dahlan Iskan

Lumbung Komisi

Catatan Dahlan Iskan

Bagikan
Bagikan

Oleh: Dahlan Iskan

“Nisa masuk rumah sakit,” ujar wanita muda itu saat mencegat saya di pintu keluar.

“Sakit apa?”

“Kan hati Nisa tinggal separo,” jawabnyi.

 

Saat itu saya sedang di SMAK Kolase Santo Yusuf, Malang. Banyak juga wanita berjilbab hadir di SMA Katolik di akhir bulan puasa lalu.

 

Di perjalanan saya buru-buru menelepon suami Nisa: Rochmat Sholekhudin. Sebenarnya saya tidak terpengaruh oleh keterangan wanita muda tadi. Sakit Nisa pasti tidak ada hubungan dengan hatinyi yang tinggal separo –yang setengahnya sudah diberikan kepada sang suami: untuk transplantasi hati di Beijing enam bulan lalu.

 

Benar saja: Nisa masuk rumah sakit karena kekurangan cairan di tubuhnyi. Ia sudah dua hari muntaber. Salah makan. Saat saya telepon sang suami, Nisa sudah keluar rumah sakit. Sudah sehat.

 

Kisah itu saya ceritakan kepada tamu-tamu saya kemarin: 21 orang. Ada Pak Achmad Mukri, mertua Nisa beserta istrinya. Ada anak-anak Nisa. Untung soto Banjarnya masih banyak. Pun untuk rombongan 15 orang pesepeda yang mampir ke soto Banjar itu.

Maksud saya: agar keluarga tidak mudah mengaitkan sakitnya Nisa dengan pemberian separo hatinyi kepada suami. Terbukti tidak ada hubungannya sama sekali.

 

Dan lagi hati Nisa yang awalnya tinggal separo itu kini sudah utuh lagi seperti sedia kala. Secara medis, hati yang dipotong separo terus bertumbuh. Dalam tiga bulan sudah kembali utuh,

 

Pun hati yang diberikan kepada suami juga bertumbuh. Di tubuh suami, dalam tiga bulan juga menjadi hati yang utuh.

 

Kemarin saya lihat suami istri itu sehat sekali. Nisa lebih cantik –berat badannyi turun setidaknya lima kilogram. Rochmat juga lebih ganteng: wajahnya seger cerah. Bibirnya merah.

 

“Sebelum transplant kelihatan layu,” ujar istri saya.

 

“Bukan hanya layu, Bu. Juga menghitam,” ujar Bu Mukri. Sang ibu sangat bersyukur anak bungsunyi bisa terselamatkan dari sakit liver yang sangat berat.

 

Di hari keenam Lebaran kemarin itu, Pak Mukri datang lengkap dengan besan dan anak cucu menantu: lima mobil. Pak Mukri sendiri naik Denza baru –kena provokasi seseorang yang lebih dulu memilikinya.

Bagikan
Artikel Terkait
Pemakaman James F. Sundah sedang berlangsung di New York. Upacara itu berlangsung dua jam, berarti selesai pukul 06.00 pagi ini.
Catatan Dahlan Iskan

Life Wife

Oleh: Dahlan Iskan Ketika Disway pagi ini terbit, pemakaman James F. Sundah...

Catatan Dahlan Iskan

Krisis Bukan

Oleh: Dahlan Iskan Rocky Gerung pamit. Sudah lima tahun RG sering tampil...

Catatan Dahlan Iskan

James Freddy Sundah

Oleh: Dahlan Iskan “Jenazahnya dibawa ke Jakarta?” “Tidak. Ia dimakamkan di New...

Catatan Dahlan Iskan

MBG

MBG bermanfaat atau tidaaak?” Pekan lalu jawabannya serentak: “Tidaaak!” Pekan ini bisa...