finnews.id – Mantan Wakil Menteri Luar Negeri RI Dino Patti Djalal menilai keikutsertaan Indonesia dalam Dewan Perdamaian atau Board of Peace (BoP) sebagai sebuah langkah yang bersifat uji coba. Menurutnya, belum ada jaminan bahwa forum tersebut mampu mewujudkan perdamaian sebagaimana yang diharapkan.
“Intinya ini adalah suatu eksperimen, dan bukan obat yang ampuh yang bisa menyembuhkan segala penyakit,” kata Dino di Kompleks Istana Kepresidenan, Rabu, 4 Februari 2026.
“Ini eksperimen dalam arti ini suatu formula di mana orang enggak tahu ini akan sukses atau enggak,” lanjut dia.
Dino mengingatkan, upaya memerdekakan Palestina melalui Board of Peace memiliki potensi kegagalan yang cukup besar. Hal itu disebabkan oleh banyaknya variabel yang memengaruhi dinamika konflik.
“Risiko gagal itu tinggi, karena berbagai faktor. Bisa faktor Trump-nya, faktor Amerika-nya, faktor Israel-nya, faktor lapangannya, faktor Hamas-nya, dan lain sebagainya,” jelasnya.
Selain itu, Dino juga menyinggung kemungkinan dampak lain dari pembentukan Board of Peace, yakni berkurangnya peran Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam menangani konflik global.
“Itu salah satu risikonya yang kita lihat ya. Apakah Board of Peace ini justru akan melemahkan PBB? Makanya tadi saya bilang, ini eksperimen. Arah ke mana, kita belum tahu,” ujar Dino.
Meski demikian, Dino menilai langkah Presiden Prabowo Subianto menunjukkan pendekatan yang realistis dalam menghadapi situasi geopolitik saat ini. Ia menyebut, di tengah kebuntuan berbagai jalur diplomasi, Board of Peace menjadi satu-satunya opsi yang tersedia.
“Kesan saya adalah beliau Presiden Prabowo itu mempunyai pendekatan yang realistis mengenai ini. Realistis dalam arti apa? Sekarang ini memang satu-satunya opsi di atas meja adalah mengenai Board of Peace, tidak ada opsi lain,” ujar Dino.