finnews.id – Bandwagon Effect: Ketika Pilihan Publik Dibentuk oleh Arus Mayoritas
Fenomena Sosial yang Kian Menguat
Dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat semakin mudah terseret arus opini dan tren yang sedang populer. Produk yang viral laris manis, tokoh publik dengan dukungan besar makin dielu-elukan, sementara opini yang berbeda kerap tersisih. Fenomena ini dikenal dalam psikologi sosial sebagai bandwagon effect.
Bandwagon effect menggambarkan kecenderungan individu untuk mengikuti pilihan mayoritas, bukan semata-mata karena keyakinan pribadi, melainkan karena dorongan sosial. Istilah ini berasal dari praktik kampanye politik di Amerika Serikat pada abad ke-19, ketika kandidat populer menaiki bandwagon—gerobak musik—untuk menarik massa agar ikut bergabung.
Definisi dan Cara Kerja
Secara konseptual, bandwagon effect terjadi ketika semakin banyak orang mendukung suatu pilihan, maka semakin besar pula kemungkinan orang lain akan ikut mendukungnya. Mayoritas dianggap sebagai penanda kebenaran, legitimasi, bahkan keamanan sosial.
Dalam konteks jurnalistik, bandwagon effect sering terlihat ketika opini publik terbentuk bukan melalui kajian mendalam, melainkan lewat angka popularitas: survei elektabilitas, jumlah pengikut, rating, atau status trending.
Peran Media dan Media Sosial
Media massa dan media sosial memiliki peran signifikan dalam memperkuat bandwagon effect. Pemberitaan yang menonjolkan popularitas suatu tokoh, produk, atau isu tertentu secara berulang dapat membentuk persepsi bahwa pilihan tersebut adalah yang paling benar atau paling layak diikuti.
Di media sosial, algoritma mempercepat proses ini. Konten dengan interaksi tinggi akan terus dimunculkan, menciptakan ilusi konsensus publik. Akibatnya, opini minoritas sulit mendapatkan ruang, meskipun memiliki argumen yang kuat.
Contoh dalam Berbagai Sektor
Bandwagon effect dapat ditemukan di berbagai sektor kehidupan:
- Politik: Pemilih cenderung mendukung kandidat dengan elektabilitas tinggi karena dianggap memiliki peluang menang lebih besar.
- Ekonomi dan Konsumsi: Produk berlabel “paling laris” atau “viral” lebih mudah menarik minat konsumen.
- Media Digital: Informasi yang ramai dibagikan sering dipercaya tanpa proses verifikasi.
- Investasi: Tren pembelian aset tertentu kerap dipicu oleh euforia massal, bukan analisis rasional.
Dampak terhadap Masyarakat