FINNEWS.CO.ID – Seluruh jalur pendakian Gunung Lawu yang berada di wilayah Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, akan ditutup sementara selama Februari 2026.
Penutupan ini dilakukan sebagai bagian dari upaya rehabilitasi dan normalisasi jalur pendakian demi meningkatkan aspek keselamatan, kenyamanan, serta kelestarian lingkungan.
Kebijakan penutupan tersebut diumumkan secara resmi oleh Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Karanganyar melalui surat pemberitahuan bernomor P/500.13.1/11/2026.
Kepala Disparpora Karanganyar, Hari Purnomo, membenarkan rencana tersebut saat dikonfirmasi di Karanganyar, Rabu (28/1/2026).
Alasan Jalur Pendakian Gunung Lawu Ditutup
Menurut Hari Purnomo, keputusan penutupan jalur pendakian selama satu bulan merupakan hasil kesepakatan bersama antara Pemerintah Kabupaten Karanganyar dan Perhutani.
Dalam beberapa waktu terakhir, sejumlah jalur pendakian Gunung Lawu dilaporkan mengalami kerusakan akibat faktor alam serta tingginya intensitas aktivitas pendakian.
“Dilakukan penutupan untuk menormalisasi jalur pendakian. Ada beberapa bagian jalur yang tergerus, rusak, serta papan informasi dan rambu keselamatan yang sudah tidak layak,” ujar Hari.
Kerusakan jalur yang tidak segera ditangani dikhawatirkan dapat meningkatkan risiko kecelakaan, terutama pada musim hujan yang membuat jalur menjadi licin dan rawan longsor.
Daftar Jalur Pendakian Gunung Lawu yang Ditutup
Penutupan ini berlaku untuk seluruh jalur pendakian Gunung Lawu di wilayah Kabupaten Karanganyar, antara lain:
-
Jalur pendakian via Cemoro Kandang
-
Jalur Cemoro Sewu via Cetho
-
Jalur Pringgodani
-
Jalur pendakian Taman Saraswati
Selama masa penutupan berlangsung, aktivitas pendakian tidak diperbolehkan sama sekali. Para pendaki diimbau untuk mematuhi aturan demi kelancaran proses rehabilitasi.
Alasan Pemilihan Bulan Februari
Pemilihan bulan Februari sebagai waktu penutupan bukan tanpa pertimbangan. Hari menjelaskan, pada pertengahan Februari sudah memasuki bulan Ramadan, yang biasanya diikuti dengan penurunan jumlah pendaki.
“Bulan Ramadan biasanya jumlah pendaki menurun, sehingga waktu ini kami manfaatkan untuk melakukan rehabilitasi jalur tanpa terlalu mengganggu aktivitas wisata,” jelasnya.
Langkah ini diharapkan bisa meminimalkan dampak penutupan terhadap sektor pariwisata, sekaligus memastikan pekerjaan perbaikan berjalan lebih optimal.