finnews.id – Greenland, pulau terbesar di dunia yang selama ribuan tahun diselimuti es abadi, kini sering disebut dalam berbagai diskusi sebagai salah satu “penanda zaman” atau bahkan dikaitkan dengan narasi tanda-tanda kiamat. Mencairnya es secara masif, perubahan iklim ekstrem, serta dampaknya terhadap dunia global membuat Greenland bukan lagi wilayah terpencil, melainkan pusat perhatian dunia. Pertanyaannya, benarkah fenomena di Greenland dapat dikaitkan dengan tanda-tanda akhir zaman?
Greenland dan Es Abadi yang Mulai Hilang
Greenland menyimpan sekitar 10 persen cadangan es dunia. Selama berabad-abad, lapisan es ini dianggap stabil dan nyaris tak tersentuh perubahan besar. Namun dalam beberapa dekade terakhir, para ilmuwan mencatat percepatan pencairan es yang sangat mengkhawatirkan.
Setiap tahun, miliaran ton es Greenland mencair dan mengalir ke Samudra Atlantik. Jika tren ini terus berlanjut, permukaan air laut global dapat naik secara signifikan. Kota-kota pesisir di berbagai negara terancam tenggelam, memicu krisis kemanusiaan berskala besar.
Fenomena Alam yang Dianggap “Tak Wajar”
Dalam perspektif masyarakat awam dan kepercayaan religius, perubahan ekstrem di Greenland sering dianggap sebagai sesuatu yang “tidak wajar”. Wilayah yang identik dengan dingin ekstrem kini mengalami suhu yang jauh lebih hangat dari biasanya. Bahkan, hujan pernah tercatat turun di puncak lapisan es Greenland—sebuah peristiwa yang sebelumnya nyaris mustahil.
Fenomena ini kerap dikaitkan dengan tanda-tanda kerusakan bumi, sebagaimana disebutkan dalam banyak ajaran agama: alam yang tak lagi seimbang, cuaca ekstrem, dan bencana yang datang silih berganti.
Greenland dalam Perspektif Tanda Kiamat
Dalam berbagai keyakinan, tanda-tanda kiamat sering digambarkan dengan rusaknya tatanan alam. Gunung es mencair, lautan meluap, dan daratan hilang sedikit demi sedikit. Greenland, dengan esnya yang mencair cepat, seakan menjadi simbol nyata dari gambaran tersebut.
Sebagian orang menafsirkan bahwa mencairnya es Greenland adalah peringatan keras bagi manusia—bahwa bumi telah dieksploitasi berlebihan. Keserakahan, polusi, dan pengabaian terhadap keseimbangan alam dianggap sebagai pemicu utama datangnya bencana besar.