finnews.id – Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengatakan, perlindungan yang lebih besar diperlukan untuk anak-anak dari pengaruh media sosial. Dan, Inggris sedang mempertimbangkan larangan pertama di dunia yang diterapkan Australia untuk anak di bawah 16 tahun.
Starmer mengatakan dalam konferensi pers, Senin, 19 Januari 2026, bahwa “tidak ada opsi yang dikesampingkan” soal pembatasan media sosial untuk anak-anak muda.
Ia juga menyampaikan keprihatinan tentang jumlah waktu yang dihabiskan anak-anak kecil di depan layar.
Para politisi di Inggris, Prancis, dan tempat lain sedang mempertimbangkan pembatasan, setelah Australia pada bulan lalu menjadi negara pertama yang melarang anak di bawah 16 tahun menggunakan platform media sosial seperti Instagram, Facebook, TikTok, dan YouTube.
“Saya pikir kita perlu berbuat lebih banyak untuk melindungi anak-anak, dan itulah mengapa kita sedang mempertimbangkan berbagai opsi dan mengatakan bahwa tidak ada opsi yang dikesampingkan,” kata Starmer.
PM Inggris dilaporkan sedang menunggu bukti lebih lanjut dari larangan Australia sebelum mempertimbangkan pembatasan serupa.
Sekitar 60 anggota parlemen dari Partai Buruh pimpinan Starmer menulis surat terbuka pada hari Minggu, mendesak perdana menteri untuk mengubah haluan dan memblokir akses bagi anak-anak di bawah usia 16 tahun karena kekhawatiran tentang dampak buruknya terhadap kesehatan mental anak muda.
“Pemerintah berturut-turut telah melakukan terlalu sedikit untuk melindungi anak-anak muda dari konsekuensi platform media sosial yang tidak diatur dan adiktif,” kata para anggota parlemen tersebut.
Pemimpin partai oposisi Konservatif, Kemi Badenoch, juga mendesak Starmer untuk bertindak lebih jauh dalam masalah ini dan mendukung larangan tersebut.
“Saya ingin Keir Starmer melakukan perubahan haluan – dan melarang anak-anak di bawah usia 16 tahun di Inggris mengakses media sosial,” tulis Badenoch di Mail on Sunday.