finnews.id – Gempa Santorini menarik perhatian dunia karena jumlah getarannya mencapai lebih dari 25.000 kali dalam waktu tiga bulan. Banyak warga maupun wisatawan merasa khawatir karena getaran terasa jelas, bahkan beberapa mencapai magnitudo di atas 5.0. Santorini sendiri berada di bagian selatan Yunani, tepatnya di Laut Aegea dalam gugusan Kepulauan Cyclades. Pulau ini terbentuk dari aktivitas vulkanik besar ribuan tahun lalu sehingga wilayahnya berada di zona tektonik aktif.
Aktivitas mulai meningkat pada Januari 2025. Rentetan getaran tidak hanya muncul di Santorini, tetapi juga terasa di Amorgos dan Anafi. Karena situasi ini berlangsung terus-menerus, banyak pengunjung memilih meninggalkan pulau. Mereka takut fenomena tersebut menjadi tanda letusan gunung berapi Kolumbo yang berada di bawah laut. Ada juga yang mengingat kembali gempa besar tahun 1956 sebagai pembanding.
Tim ilmuwan kemudian meneliti pola gempa Santorini dengan bantuan fisika dan kecerdasan buatan. Setiap getaran mereka perlakukan seperti sensor virtual yang memberi data tentang kondisi bawah tanah. Melalui pendekatan ini, para peneliti membuat model tiga dimensi kerak bumi di sekitar pulau dan memetakan arah tekanan serta gerak material di dalamnya.
Hasil analisis menunjukkan bahwa magma bergerak secara horizontal sepanjang 30 kilometer di kedalaman sekitar 10 kilometer di bawah permukaan laut. Volume magma tersebut setara dengan lebih dari 200.000 kolam renang ukuran Olimpiade. Pergerakan itu mendorong dan memecahkan batuan yang menghalangi jalurnya sehingga memicu rentetan gempa berulang. Fenomena ini cukup jarang terdokumentasi karena sebagian besar intrusi magma bergerak secara vertikal.
Saat ini aktivitas sudah mereda sehingga para ilmuwan menilai magma berhenti sebelum mencapai permukaan. Namun kondisi ini belum menjamin stabilitas pulau dalam jangka panjang karena sistem vulkanik bisa kembali aktif sewaktu-waktu. Pengamatan jangka panjang tetap penting, terutama karena wilayah ini merupakan salah satu hotspot vulkanik di Eropa.
Penelitian ini membuka jalan baru dalam pemantauan aktivitas vulkanik global. Pendekatan berbasis kecerdasan buatan memberi kemampuan membaca pola bawah tanah lebih cepat dan lebih akurat. Negara seperti Islandia, Italia, Jepang, dan Filipina mungkin akan mengadopsi metode serupa untuk mitigasi risiko di masa depan. Pada akhirnya, penelitian ini tidak hanya menjelaskan fenomena rentetan tersebut, tetapi juga membawa harapan baru untuk prediksi bencana.
Referensi:
Science
BBC News
UCL Earth Sciences
finnews.id – Perundingan antara Amerika Serikat dan Iran kembali menemui jalan buntu....
finnews.id – Kebijakan baru Iran terkait jalur strategis energi dunia, Selat Hormuz,...
finnews.id – Dua kapal perang Amerika Serikat dilaporkan berhasil melintasi Selat Hormuz....
radarpena.co.id – Militer Israel menyatakan telah melancarkan lebih dari 10.800 serangan udara...
Excepteur sint occaecat cupidatat non proident