Home Internasional Hutan Amazon di Ambang Titik Balik
Internasional

Hutan Amazon di Ambang Titik Balik

Bagikan
Hutan Amazon
Hutan Amazon: Useche360 / Pixabay
Bagikan

finnews.id – Larangan penjualan soya dari lahan yang dibuka setelah 2008 pernah menjadi garis pertahanan terpenting bagi hutan Amazon.

Selama hampir dua dekade, aturan ini membantu menahan perluasan perkebunan agrikultur yang sebelumnya menjadi motor deforestasi masif.

Namun sekarang situasinya berubah. Tekanan politik dan ekonomi dari kelompok industri agrikultur membuka jalan agar aturan itu dibatalkan.

Lalu muncul pertanyaan besar: apa yang akan terjadi pada hutan Amazon jika moratorium benar-benar dicabut?

Saat konferensi iklim COP30 berlangsung, para ilmuwan memperingatkan bahwa ekosistem terbesar dunia itu mendekati batas biologis.

Banyak riset menyatakan bahwa hutan Amazon sudah mengalami perubahan sistem air, penurunan kelembapan, serta peningkatan suhu akibat deforestasi dan perubahan iklim.

Ketika aturan moratorium terancam dicabut, kekhawatiran semakin besar karena ekspansi perkebunan dapat meningkat cepat melalui proyek logistik baru seperti jalur kereta api yang kini sedang dibangun.

Moratorium dan Penurunan Laju Deforestasi

Larangan soya di hutan Amazon pertama kali muncul melalui kerja sama antara aktivis lingkungan, petani, serta perusahaan makanan global.

Greenpeace mendorong kesadaran publik setelah menemukan keterkaitan soya dengan rantai pasokan ayam cepat saji global.

Setelah kebijakan diberlakukan pada 2008, deforestasi turun drastis hingga mencapai titik terendah pada 2012.

Namun setelah perubahan pemerintahan, terutama pada masa Jair Bolsonaro, deforestasi naik kembali karena dorongan industrialisasi hutan.

Kini, dengan munculnya kembali dorongan mencabut larangan, siklus perusakan berpotensi semakin agresif.

Risiko Kehancuran Ekosistem

Ilmuwan yang meneliti hutan Amazon memperingatkan fenomena tipping point.

Mereka menemukan pola yang mengarah pada penurunan produksi uap air di atmosfer, hilangnya penyeimbang iklim alami, serta kekeringan yang semakin sering.

Ketika pohon ditebang, kemampuan sistem alam memproduksi hujan akan melemah.

Lalu, ketika kelembapan menghilang, kemampuan regenerasi pohon akan jatuh.

Jika tipping point terlewati, hutan Amazon berisiko berubah menjadi sabana kering.

Perubahan ini tidak hanya berdampak lokal, tetapi global. Pasalnya, ekosistem ini menyimpan jutaan ton karbon.

Ketika hutan mati, karbon itu akan lepas ke atmosfer dan memperburuk krisis iklim global.

Hutan Amazon telah menjadi pusat karbon dunia dan benteng terakhir stabilitas iklim.

Ketika batas ekologinya rusak, siklus cuaca dunia pun terganggu.

Pola curah hujan di Afrika Barat, Asia Tenggara, hingga Eropa sangat bergantung pada sistem uap air yang bersumber dari hutan ini.

Bagikan
Artikel Terkait
Internasional

Polisi Israel Tangkap Imam Masjid Al-aqsa

finnews.id – Situasi di kompleks Masjid Al-Aqsa semakin memanas menjelang bulan suci...

Internasional

Menlu AS: Sulit Mencapai Kesepakatan dengan Iran, Tetapi Kami Akan Coba

finnews.id – Mencapai kesepakatan dengan Iran akan sulit, kata Menteri Luar Negeri...

Internasional

Menlu AS Sebut Washington Ingin Hidupkan Kembali Persahabatan Lama dengan Eropa

fin.co.id – Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio berusaha meyakinkan Eropa bahwa...

Internasional

Rusia ‘Say Goodbye’ ke Whatsapp, Alasannya Klasik

finnews.id – Rusia Mengancam Blokir Total WhatsApp: Promosikan Aplikasi Domestik sebagai Alternatif...