finnews.id – Weton, sebuah perhitungan hari lahir dalam kalender Jawa, sudah mendarah daging dalam budaya masyarakat Indonesia, khususnya Jawa.
Sejak lama, weton dipercaya bisa meramal jodoh, menentukan kesuksesan, hingga meramalkan nasib buruk. Sayangnya, seiring waktu berjalan, banyak sekali keyakinan atau asumsi yang beredar di masyarakat mengenai weton yang justru tidak sesuai dengan pakem aslinya.
Inilah yang kita sebut sebagai mitos. Penting bagi kita untuk memahami dan membongkar 5 mitos tentang weton yang ternyata salah kaprah, agar kita bisa melihat tradisi ini dengan pandangan yang lebih jernih dan tidak terjebak dalam kekhawatiran yang tidak perlu.
Banyak orang terutama generasi muda yang merasa takut atau cemas berlebihan ketika mitos tentang weton yang ternyata salah kaprah mulai mengganggu pikiran mereka.
Misalnya, ada pasangan yang batal menikah hanya karena weton mereka dianggap pepetan atau ketemu, padahal dalam primbon Jawa klasik, perhitungan tersebut memiliki makna yang jauh lebih dalam dan tidak sesederhana “cocok atau tidak cocok.” Weton seharusnya menjadi panduan, bukan vonis mati yang menentukan nasib seseorang.
Dengan bahasa yang ringan dan informatif, mari kita ulas satu per satu kesalahpahaman ini, sekaligus mengembalikan fungsi weton sebagai kearifan lokal yang memperkaya budaya, alih-alih menjadi sumber ketakutan.
Mitos 1: Weton yang “Ketemu 25” (Pegat) Pasti Berujung Cerai
Ini adalah salah satu mitos paling menakutkan bagi pasangan yang hendak menikah. Konon, jika nilai neptu weton dijumlahkan dan menghasilkan angka 25 (misalnya, Minggu Kliwon 13 dan Jumat Legi 12), pasangan tersebut diramalkan akan berpisah atau bercerai (pegat).
Fakta yang Benar: Perhitungan Pegat adalah satu dari banyak metode petungan (perhitungan) dalam Primbon. Primbon Jawa tidak berhenti pada hasil penjumlahan saja! Jika hasilnya Pegat, masih ada tahapan perhitungan lain, seperti Sri-Lungguh-Gedhong-Lara-Pati, atau perhitungan Pancasuda (Wasesa Segara, Tunggak Semi, dll.). Nilai 25 hanyalah indikator awal, dan bukan keputusan final. Pakar weton sejati akan menyarankan solusi (misalnya melalui ritual ruwatan atau sedekah) alih-alih langsung membatalkan pernikahan.
Mitos 2: Orang dengan Weton “Tibo Pati” Pasti Cepat Meninggal
Mitos ini sering membuat orang tua cemas. Tibo Pati berarti ‘jatuh pada kematian’. Mitos yang beredar adalah bahwa seseorang atau rezeki keluarga yang dihitung dengan Tibo Pati pasti akan menghadapi nasib buruk atau kematian.
Fakta yang Benar: Dalam konteks rezeki atau kemuliaan, istilah Pati tidak melulu berarti kematian fisik. Pati sering diartikan sebagai “mati suri” atau “tidak berdaya” untuk sementara waktu. Artinya, orang tersebut mungkin akan mengalami masa-masa sulit atau ‘mati’ rezeki sebelum bangkit kembali. Ini lebih merupakan peringatan untuk bekerja keras dan bersabar, karena setelah kesulitan, kemuliaan akan datang.
Mitos 3: Weton Tinggi Pasti Lebih Sukses daripada Weton Rendah
Banyak orang membanggakan nilai neptu weton yang tinggi (seperti Sabtu Kliwon, neptu 17) dan menganggap mereka yang ber-neptu rendah (misalnya Selasa Wage, neptu 7) akan kurang beruntung.
Fakta yang Benar: Nilai neptu yang tinggi menunjukkan energi atau potensi yang besar. Namun, potensi hanyalah modal. Dalam Primbon, yang terpenting adalah kecocokan atau keselarasan dengan elemen lingkungan dan pekerjaan. Orang dengan weton “rendah” yang jatuh pada perhitungan rezeki Tunggak Semi (Rezeki seperti pohon yang selalu bertunas) justru akan lebih makmur dan stabil rezekinya dibandingkan weton tinggi yang jatuh pada Bumi Kapetak (Orang yang keras dan perlu berjuang sendiri). Kesuksesan bergantung pada usaha dan keselarasan, bukan angka neptu semata.
Mitos 4: Weton yang Sama Tidak Boleh Menikah
Misalnya, dua orang yang sama-sama lahir pada Jumat Kliwon tidak boleh menikah karena nasib mereka akan saling menarik ke bawah.
Fakta yang Benar: Pernikahan sesama weton tidak dilarang mutlak. Sebaliknya, pernikahan dengan weton yang sama justru bisa menghasilkan keselarasan karena memiliki sifat dasar, Pancasuara, dan Lintang yang serupa. Yang perlu diwaspadai adalah jika sifat buruk dari kedua pasangan bersatu. Solusinya bukan membatalkan, tetapi saling mengisi dan mengontrol sifat negatif masing-masing.
Mitos 5: Weton Hanya Dipakai untuk Meramal Nasib dan Jodoh
Banyak yang menganggap weton hanya berfungsi sebagai alat ramalan nasib dan kecocokan pasangan.
Fakta yang Benar: Fungsi utama weton jauh lebih luas dan praktis. Weton digunakan sebagai penentu hari baik (Dina Alah dan Dina Mulya) untuk memulai usaha, mendirikan rumah, pindah, atau melakukan upacara adat. Intinya, weton adalah penanda waktu yang bertujuan untuk mencari keselamatan (kebaikan dan keberuntungan), bukan sekadar meramal, melainkan untuk menentukan langkah yang paling harmonis dengan energi alam pada hari tersebut.
Memahami mitos tentang weton yang ternyata salah kaprah adalah langkah awal untuk melestarikan kearifan lokal ini secara benar.
Weton adalah ilmu titen, sebuah catatan observasi leluhur terhadap pola alam, yang bertujuan untuk memberikan peringatan dan panduan, bukan untuk menciptakan ketakutan atau vonis.
Dengan meluruskan mitos-mitos ini, kita bisa lebih menghargai kekayaan budaya Jawa tanpa perlu merasa khawatir atau terbebani oleh interpretasi yang keliru.