Selama Djauhari menjabat duta besar, hubungan perdagangan Indonesia-Tiongkok naik tiga kali lipat. Menjadi yang terbesar. Pun bila dibanding dengan seluruh negara Eropa dijadikan satu. Yang lebih hebat lagi: kini perdagangan Indonesia surplus dari Tiongkok –seperti mustahil dicapai mengingat banjirnya barang Tiongkok ke Indonesia.
Saya amat jarang mampir ke salah satu kedutaan kita di luar negeri. Lain dengan Beijing. Saya tergolong sering ke Keduataan Besar Republik Indonesia di Beijing. Ada saja urusan. Pernah karena sulit cari tempat berlebaran Idul Fitri –saat kami kebetulan di Beijing. Ke Kedutaanlah yang pasti ada ketupat Lebaran.
Pernah karena diundang untuk mengisi acara Ramadan di situ –ketika didengar saya sedang di Beijing. Pernah juga karena harus mengantar pasien transplantasi hati untuk minta legalisasi dokumen.
Selasa malam kemarin kebetulan ada acara penting di Kedubes RI Beijing: resepsi diplomatik. Yang diundang kedutaan seluruh dunia di Beijing. Rombongan Disway Business Adventures Vol. 5 kebetulan ke Beijing. Sekalian diundang.
Meski acara itu mundur satu minggu kami tetap dijadwalkan ke Kedubes: makan malam. Horeee. Gratis. Kebetulan sudah tiga hari rombongan dibombardir masakan setempat. Sudah kangen masakan Indonesia. Bu Wiwik Oratmangun, istri duta besar, pandai sekali masak –di samping sangat pandai menyanyi.
—
Yang terakhir itulah yang kadang membuat saya takut ketemu pak Dubes Djauhari: takut disuruh menyanyi. Pernah saya harus ada acara di Kedubes RI di Beijing. Saking takutnya saya terpaksa mengajak teman yang bisa menyanyi: suami Janet. Aman.
Selasa malam kemarin saya lebih aman. Dalam rombongan kami banyak yang bisa menyanyi. Bahkan, salah satunya bisa menyanyi lagu yang saya belum pernah mendengar, pun judulnya: Sesuatu di Jogja. Ia seorang doktor ahli politik kesultanan Indonesia. Ia peneliti sultan-sultan yang pernah dan masih ada. Termasuk mengapa ada sultan yang bisa terpilih jadi DPRD/DPR/DPD di Pemilu. Mengapa pula tidak. Bahkan ada sultan yang di Gowa yang sudah enam kali ikut Pemilu selalu kalah dari keluarga dinasti baru Syahrul Limpo.