Tentu yang pertama punya pikiran seperti itu adalah para pemilik perusahaan. Terutama yang merasa kinerja perusahannya bagus. Mereka tidak rela harga saham seturun itu. Maka dengan memakai tangan-tangan tersembunyi mereka mulai membeli saham perusahannya sendiri. Setidaknya ikut menyelamatkannya.

Tentu gerakan ”saatnya membeli” seperti itu mengincar saham perusahaan-perusahaan profesional. Maka saham lima bank besar naik sampai 9 persen (Bank Mandiri), 8 persen( BBRI), dan BBCA naik lebih 6 persen.

Tulisan yang baik adalah yang bisa menyelipkan humor biar pun di tengah bahasan yang serius. Humor hari ini adalah harga saham GoTo. Selasa kemarin ikut naik drastis: 9 persen. Tumben. Hebat. Tapi jangan dilihat persentasenya. Lihatlah berapa rupiah kenaikannya: naik Rp2/lembar. Menjadi Rp26/lembar.

Bayangkan betapa babak belurnya GoTo. Di bulan April 2022 harga saham GoTo setinggi Rp 442/lembar. Terjun bebas jadi Rp50/lembar. Itu pun karena ada aturan harga saham tidak boleh lebih rendah dari gocap.

Tapi ketika bulan lalu muncul peraturan bursa yang baru saham GoTo terjun lagi tinggal Rp24/lembar. Tanggal 28 September lalu memang terbit peraturan harga saham terendah tidak harus Rp50 melainkan bisa tinggal Rp1/lembar.

Apakah sudah ada yang jatuh sampai Rp1? Ternyata ada. Bahkan tiga emiten: MKNT (Mitra Komunikasi Nusantara Tbk), SBAT (Sejahtera Bintang Abadi Textil Tbk), dan TOPS (Totalindo Eka Persada Tbk).

MKNT dulunya jualan pulsa. Pasarnya habis. Lalu jualan benang.

SBAT bergerak di bidang daur ulang kain. Dijadikan antara lain kain pel. Pernah ekspor. Lalu mengalami kesulitan.

Sedang TOPS adalah perusahaan kontraktor gedung bertingkat dan usaha properti.

Apakah kenaikan saham 5 persen Selasa kemarin benar-benar mutiara di tengah lumpur? Bisa ya dan tidak. Tetap saja itu kabar baik karena sentimen terasa membaik. Tapi bisa juga belum sebenar-benar kabar baik karena ini: pihak asing masih terus melepas sahamnya. Itu baru benar-benar kabar surga kalau domestik dan asing sama-sama mulai membeli.