—
Tidak mudah membangun jalan di medan seperti itu. Ups… tidak sulit. Yang dibangun hanya jalan untuk kaki –kaki manusia dan kaki kuda. Cukup jalan setapak. Naik gunung dan turun jurang.
Sebenarnya dibangun juga jalan alternatif. Lewat pantai timur. Persoalannya: banyak muara sungai. Belum ada jembatan. Belum ditemukan teknologi jembatan besar di Jepang. Kalau lewat pantai perjalanan Kyoto-Edo bisa lebih lama –getek harus menunggu banjir reda.
Maka yang lebih dipilih adalah jalan yang di pegunungan. Karena itu disebut 中山道 — Nakasendo dalam bahasa Jepang atau zhong san dao dalam bahasa Mandarin –artinya: rute di tengah gunung.
Sebenarnya rute itu juga tidak hanya di tengah gunung. Bisa juga disebut di tengah hutan. Manusia masih sedikit. Gunung dan hutan belum ada yang menjarah. Juga tidak ada yang membakarnya.
Tentu kami tidak camino sampai 530 kilometer. Waktunya tidak cukup. Juga otot kakinya. Enaknya di rute Nakasendo 530 km itu dibagi atas 69 etape. Kami dipilihkan dua etape saja. Satu stop. Yakni etape yang terbaik, terfavorit dan tertinggi nilai sejarahnya. Yang memilihkan adalah si pengusaha sangat besar yang sudah tiga kali melakukan Nakasendo.
—
Kami diminta memulai dari Tsumago. Pagi-pagi kami berangkat dari hotel di Inumaya naik mobil ke Tsumago. Setelah berkendara setengah jam masuklah ke keindahan alam pegunungan Jepang. Naik. Turun. Berliku. Ikut aliran sungai. Bersih. Jernih.
Setelah berkendara 1,5 jam tibalah di titik awal camino. Begitu turun mobil di Tsumago waktu terasa diputar balik dengan kecepatan cahaya: begitu cepat tiba ke masa lalu nan lampau. Itulah istimewanya ruas Tsumago-Magome. Kita serasa mendadak berada di tahun 1600-an.
Mulailah kami menapaki jalan tanah, batu dan cadas. Naik. Turun. Naik. Naik. Naik. Belum juga turun. Etape pertama mungkin hanya 1,5 km atau kurang. Tapi kami harus menempuhnya 1,5 jam.
“Kuat pak?” sapa seorang CEO muda dari perusahaan fintech. Ia bertanya begitu sambil memandang tanjakan di depan di tengah hutan momiji –pohon mapple khas Jepang.