Rocky Gerung mirip itu. Pasarnya mahasiswa. Warungnya kampus. Bedanya Socrates sering membuat pertanyaan yang membuat yang ditanya berpikir. Rocky sering membuat yang ditanya terpojok.

Yang jelas Rocky punya kemampuan bertanya. Ketika pertanyaan itu dijawab ia mampu mengajukan pertanyaan berikutnya. Lalu berikutnya lagi. Sampai yang ditanya terjebak sendiri dengan jawaban awalnya.

Kini Rocky Gerung berada di dalam ”kerangkeng” Wantimpres. Di situ ia tidak bisa memperlakukan 25 anggota Watimpres yang lain seperti mahasiswa. Saya tidak tahu Rocky cocoknya masuk tim apa di dalam Wantimpres.

Di lembaga itu akan dibentuk beberapa tim. Tim Ekonomi, misalnya, ada Chairul Tanjung, Dato’ Sri Tahir, Jusuf Hamka. Rocky pasti akan dimasukkan ke salah satu tim. Perannya pun akan dibatasi untuk merumuskan pertimbangan di bidangnya saja. Tidak bisa lagi bicara apa saja yang di luar bidang timnya.

Setelah masing-masing tim membuat rumusan barulah dibawa ke pleno Wantimpres. Kalau sudah disetujui pleno barulah pertimbangan itu dikirim ke Presiden.

Di Wantimpres mirip di DPR yang anggotanya dikelompokkan ke dalam komisi-komisi. Seorang anggota DPR hanya bisa bicara sebatas bidang di komisinya.

Maka saya bisa membayangkan apakah Rocky Gerung bisa kerasan hidup seperti itu. Atau ia memang sudah sejinak itu.(Dahlan Iskan)