Anda sudah tahu: di antara para filsuf zaman itu Socrates memang yang paling jago debat. Pun dibanding Plato dan Aristotelis. Plato lebih sastrawi. Aristotelis lebih ke sistematika berpikir. Socrates punya kemampuan lengkap.
Harus diakui Rocky Gerung memang pembaca buku yang luar biasa. Waktu ke rumahnya yang menempel di tebing terjal dekat Sentul itu saya minta izin ke toilet. Dengan cara itu saya bisa memasuki lorong-lorong rumahnya yang unik itu: di mana-mana buku. Buku karya pemikir siapa saja dari zaman apa saja ada di rumah itu.
“Saya ingat isi seluruh buku ini,” katanya
—
Di rumahnya, saat itu, sudah ada beberapa tokoh aktivis seperti Jumhur Hidayat, Ferry Juliantono, dan Syahganda Nainggolan. Merekalah tokoh aktivis militan sampai ada yang masuk penjara.
Keempatnya kini berada di dalam pemerintahan Prabowo. Jumhur sebagai menteri lingkungan hidup, Ferry sebagai menteri koperasi, Syahganda Nainggolan sebagai Kepala Badan Komunikasi Pemerintah, dan Rocky Gerung sebagai anggota Wantimpres.
Melihat cara Rocky Gerung memojokkan lawan debatnya, kadang terpikir oleh saya kenapa tidak ada yang balas bertanya ke Rocky Gerung: apakah Anda sendiri pernah baca buku Al-Mabahith al-Mashriqiyyah? Kalau ia ternyata mengaku juga telah membacanya baliklah bertanya: apakah pernah membaca karya aslinya yang berbahasa Arab? Saya ingin tahu jawaban Rocky.
Mengikuti beberapa debat yang melibatkan Rocky ada kesan seolah sesuatu yang sudah ditulis di sebuah buku terkemuka adalah kebenaran. Demikian juga dengan logika. Seolah yang logikanya lebih baik ia yang lebih benar.
Mungkin Rocky memang seperti Socrates: kuat dalam tiga hal sekaligus. Pandai berpikir, pandai bertanya, dan pandai berbicara. Banyak filsuf yang hanya pandai berpikir dengan cara lebih banyak merenung dan menulis. Tapi Socrates hebat tiga-tiganya.
Anda sudah tahu: Socrates punya kebiasaan pergi ke pasar-pasar, ke warung-warung, dan ke mana saja. Socrates selalu mengajak siapa saja berdebat. Ia juga selalu ke mana-mana membawa buku.