“Penutup Qanun Azazi hadis arba’in?” tanya saya agak njondil –ingat pernah belajar hadis arbain di sekolah aliyah dulu.
“Bukan itu. Ini arba’in dalam pengertian khusus. Disebut juga Al Arba’in haditsan nabawiyyan,” jawab Dr Lelly.
Qanun Azazi mengandung dasar-dasar kepemimpinan, tanggung jawab, kebenaran, dan etika berorganisasi. Itu ditulis tahun 1927-1928 setelah satu tahun berpengalaman menjalankan organisasi NU yang didirikan tahun 1926.
Usai makan siang saya pamitan: ke museum Hasyim Asy’ari. Nama lengkapnya: Museum Islam Indonesia ”KH Hasyim Asy’ari”. Lokasinya di sebelah barat pondok putri Tebuireng. Bangunannya megah, arsitekturnya menarik, lahannya luas.
Museum ini dibangun oleh pemerintah di atas tanah negara. Di sebelah sana halaman museum, dibangun terminal bus –terminal khusus untuk peziarah makam Gus Dur. Minggu kemarin terlihat orang berbondong berjalan satu kilometer dari terminal ke makam.
Di lahan antara terminal dan halaman museum dibangun masjid megah dengan dua menara menjulang tinggi.
Masjid itu terlihat mangkrak. Ternyata sudah lebih lima tahun tidak ada kegiatan penyelesaian pembangunannya.
Semua orang Tebuireng tahu mengapa masjid itu mangkrak. Itu bukan masjid yang dibiayai negara. Bukan pula dibangun oleh pondok Tebuireng.
Masjid itu dibangun oleh seorang pengusaha di Jombang. Si pengusaha sedang ambisi-ambisinya ingin jadi calon bupati Jombang. Sebelum masa kampanye masjid itu harus sudah selesai. Ia pasti menang.
Ternyata berhasil jadi calon pun tidak. Ia tidak dapat ”kendaraan”. Tidak ada satu partai pun yang mencalonkannya. Sejak itu pembangunannya tidak diteruskan.
Museum Hasyim Asy’ari ini empat lantai. Liftnya dua. Yang dibuka untuk umum baru dua lantai.
Lantai satu berisi diagram masuknya Islam ke Indonesia –lewat Aceh dan Barus di pantai barat Sumut. Lalu ada foto ulama-ulama besar di abad itu: mulai Syeh Yusuf Makassari dari Makassar, Syeh Syaikhona Kholil Bangkalan dari Madura, Syeh Nawawi Bantani dari Banten, Syeh Arsyad Banjari dari Kalsel, Syeh Khatib Sambasi dari Kalbar, Syeh Mahfudz Termasi dari Termas Pacitan, Syeh Sholeh Darat dari Jateng dan Syeh Muhyi Pamijahan, Jabar.