Siangnya ada juga pertanyaan mengenai ekonomi ke depan bagi pengusaha di Medan. “Pengusaha itu keadaan sulit harus dibuat mudah. Keadaan mudah harus dibuat sulit,” kata saya. “Pengusaha itu tetap berusaha dalam keadaan seperti apa pun,” tambah saya.

Malam itu, pengusaha Medan yang terkenal se Indonesia duduk di sebelah saya: Jonathan Junus. Masih muda. Ia juga nasabah lama Bank Permata. Ayahnya menyekolahkan Jonathan ke Amerika. Lulus dari North Carolina ia mencoba jadi pengusaha di sana. Kesimpulannya: masih lebih mudah jadi pengusaha di Indonesia.

Jonathan pun pulang ke Medan. Ayahnya punya pabrik yang bisa membuat pabrik. Semua pengusaha sawit tahu perusahaan itu: mampu membuat PKS –pabrik kelapa sawit. Terutama boilernya.

Saya menganggap keluarga Jonathan adalah pahlawan Medan –bahkan Indonesia. Pabrik apa pun di Indonesia biasanya buatan luar negeri. Tapi khusus PKS yang terbanyak adalah buatan Medan. Mulai dari Aceh sampai Papua –sudah ada satu PKS di Papua.

Ada lebih 1000 pabrik kelapa sawit di seluruh Indonesia. Lebih dari separonya buatan Medan. Buatan Jonathan. Buatan Tiongkok pun kalah. Apalagi buatan Malaysia. Baru di PKS kita bisa jadi tuan rumah di negara sendiri.

Kini Jonathan sudah dipercaya sepenuhnya mengendalikan perusahaan. Ayahnya masih rajin ke kantor tapi hanya sebagai penasihat.

Perusahaan itu sendiri didirikan oleh kakeknya. Lalu dikembangkan oleh ayahnya.”Kakek saya orang hebat. Juga bapak saya. Kakek tidak sekolah tapi menguasai permesinan,” ujar Jonathan. Sang kakek juga berwawasan jauh. Anak-anaknya, termasuk ayah Jonathan, disekolahkan di Amerika. Perusahaan itu pun kokoh sampai generasi cucu seperti Jonathan.

Di Medan ternyata saya tidak hanya menemukan durian. Di Medan saya juga menemukan pahlawan ekonomi Indonesia. (Dahlan Iskan)