Sebenarnya mau ambil lagi. Tapi tidak tega: yang antre di dekat sisa yang empat itu lebih dari lima orang.

—

Masih punya sisa waktu me time satu jam lagi. Mendung Medan menggelayut hitam. Di sana hujan sudah datang mendahului Riau, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi. Dedaunan pohon sudah tampak hijau sampai pun rumput di bawahnya. Setelah dari Sulawesi yang kerontang mata terasa sejuk dengan hijaunya Medan.

Dari pada kehujanan lebih baik balik hotel. Saya minta dilewatkan Lapangan Merdeka. Memutarinya. Sudah bagus. Penataan lapangan Merdeka saya anggap berhasil.

Saya putuskan balik ke hotel: saya masih punya utang: hari itu belum olahraga.

Itu gara-gara paginya harus ke bandara sebelum matahari terbit. Maka kini saatnya bayar utang.

Saya pun menuju gym-nya: di lantai 17. Ramai. Saya cari ruang yang biasa untuk yoga. Di situ enak untuk senam dansa. Ruangnya tidak terlalu besar –musik dari HP pun cukup terdengar keras oleh kaki saya.

Tapi .. ups… ruang yoga itu ramai sekali. Riuh. Saling teriak. Mereka tidak yoga. Mereka main pingpong di ruang itu. Satu meja pingpong dipakai bergantian. Ketika buka pintu saya ditawari untuk pingpong melawan mereka. Saya lirik kualitas permainan mereka: kelas Arwana Jaya semua. Saya minder. Dan lagi niat saya ke situ memang untuk senam dansa.

Di ujung ruangan terlihat ada panggung. Mungkin biasa dipakai guru yoga untuk mengajar. Di situlah saya memutar lagu untuk senam. Kaki saya mendengarkan lagunya dengan susah payah: kalah nyaring dengan teriakan-teriakan pemain pingpong yang puas bisa mengecohkan bola ke lawannya.

Sore itu saya senam sendirian –tapi rasanya seperti senam dengan seribu orang.

Komunitas pingpong di Medan ternyata fanatik. Mereka membeli sendiri meja pingpong itu. Sesi pingpong mereka berakhir sebelum saya menyudahi semi aerobik. Meja pingpong itu dilipat. Ditaruh rapi di sudut ruangan –untuk besok lagi.

Malam itu acaranya berat: prospek ekonomi ke depan. Pembicaranya ahli keuangan dari Verdhana: Heriyanto Irawan dan fund manager dari Trimegah Jakarta. Heriyanto belum lama pulang dari Beijing. Ia mendampingi Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut B. Panjaitan menemui Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi. Saya mencermati pembicaraan mereka: keadaan ekonomi ke depan tidak mudah bagi pengusaha.