Yang diundang di forum itu adalah responden survei ekonomi Bank Indonesia Sulut. Termasuk para pengusaha –dan karena itu saya diminta bicara dengan mereka. Satu pembicara lainnya: David Sumual, ekonom Bank BCA.

Tentu saya ingin tahu perkembangan bisnis kelapa dan pala di Sulut: apa kabar. Asumsi saya, dengan jatuhnya rupiah belakangan eksporter kelapa dan pala bersuka ria –meski sebagian besar dari Anda sakit kepala.

Benar. Begitu. Eksporter kepala –ups, kelapa– sangat menikmatinya. Mulai yang ekspor tepungnya sampai santannya. Bahkan, air kelapa pun, yang dulu dibuang, kini laku di pasar ekspor.

Saya pun minta agar pengusaha yang sudah ekspor mengangkat tangan. Ternyata banyak sekali. Mereka saya minta naik panggung: saya memberi gelar mereka pahlawan ekonomi.

—

Memang ekonomi Sulut bisa maju hanya oleh dua hal: ekspornya terus berkembang dan pariwisatanya dibanjiri turis asing. Bukan karena produksi Cap Tikus-nya meroket –kecuali kenaikannya itu untuk ekspor.

Sulut sudah punya modal sosial yang kuat. Masyarakatnya tidak mudah konflik. Sumbu mereka panjang. Suka damai. Torang basudara. Meski motto mereka –yang dulu ditulis besar-besar di atap bandaranya– sudah tidak ada lagi, tetap saja budaya Manado adalah tolong menolong: orang hidup itu saling menghidupi.

Dulu, kali pertama membaca tulisan itu dari jendela pesawat yang sedang taxi menuju apron saya pikir itu semacam ucapan selamat datang dalam bahasa Manado: Si Tou Timou Tumou Tou. Ternyata itulah makna gotong royong dalam bahasa lokal.

“Apakah selama 10 tahun terakhir jumlah pohon kelapa di Sulut bertambah?” tanya saya.

“Justru terus berkurang, Pak,” jawab para eksporter itu.

Saya tahu penyebabnya. Sejak perkebunan sawit mewabah di Indonesia, produk nyiur kurang lagi melambai. Harga kopra jatuh. Pun harga produk hilirisasi kelapa. Andalan Sulut, Gorontalo, dan Palu pun tidak pernah bisa ereksi lagi.

Sampailah pada tiga puluh tahun kemudian, ketika ekonomi Tiongkok meraksasa. Kebutuhan apa pun meningkat drastis di sana. Termasuk kebutuhan kelapa: mulai arang tempurung, sabut, tepung, santan, sampai air kelapanya. Tidak ada yang tersisa.