Setelah ruang dibuat terang ternyata ada cermin di situ. Benda putih tadi sebenarnya hanya satu. Kepala saya pun kebentur dinding sampai menimbulkan suara benturan yang keras. Orang-orang menertawakan saya. Saya kecele ketika ingin mengintip: ada apa di balik cahaya putih itu.

Untuk masuk ”Habis gelap….” harus bayar: satu dolar. Anda harus membayarnya dengan rupiah –karena ini di Indonesia. Di dinding sebelah kasir ada angka-angka digital live dari bank: di saat Anda membayar itu angka digital menunjukkan kurs dolar sedang di angka berapa.

Inilah karya seni yang –seperti karya seni pada umumnya– mengandung kritik sosial: betapa jatuh nilai rupiah kita. Sang seniman –yang mempunyai karya ini– tidak ingin mendapat uang dari Anda. Dengan membayar pakai cara itu ia hanya ingin Anda menyadari betapa lemahnya mata uang kita. Setelah Anda membayar si kasir memberikan ke Anda tanda mata yang harganya setara dengan 1 dolar Amerika.

Seniman yang menyajikan karya seni ”Habis gelap ….” ini Anda sudah tahu: Wawan Dalbo. Ia seorang arsitek di Yogya. Juga pemilik sebuah hotel di sana –teman sepedaannya cucu Pak Iskan.

Dalbo punya galeri besar di Yogya, yang kalau masuk harus bayar Rp 30.000. Puluhan ribu orang berkunjung ke galerinya setiap tahun: Galeri Edsu.

Besarnya ArtSubs juga terlihat dari jumlah artis yang ikut di dalamnya: 151 pelukis. Karya yang dipamerkan 500 benda seni.

Selesai melihat ArtSubs saya tidak habis pikir: bagaimana orang seperti Rambat berani mengadakannya di Surabaya. Pasti mahal sekali. Perkiraan saya Rambat perlu punya dana Rp 15 miliar untuk bisa mengairi ladang tandus seni di Surabaya.

Uang memang bisa dicari. Tapi hanya Rambat yang berani mencari uang untuk seni.(Dahlan Iskan)