Risma punya keinginan bangunan bawah tanah itu diperluas sampai ke bawah jalan raya, bahkan sampai ke tanah yang gagal direbut itu. Alangkah hebatnya kalau gubernur Jakarta juga membuat parkir bawah tanah yang besar di bawah Monasnya.
Sayang sekali Bu Risma membangun gedung DPRD Surabaya di kompleks ini. Kelak gedung itu harus digusur ke lokasi lain: politik dan seni itu bertentangan. Yang seni membangun kehalusan rasa, budi, dan budaya, yang politik menghasilkan sebaliknya. Apalagi untuk membangun gedung DPRD itu, dulu, harus menggusur markas Dewan Kesenian Surabaya (DKS) –entah ke mana DKS menggelandang sekarang.
Gedung-gedung De Simpangsche Societeit itu, dan sekalian halamannya, disulap jadi ruang untuk ArtSubs: pameran dibuka Sabtu lalu untuk durasi sampai tanggal 8 November. Untuk menyulap itu diperlukan kayu-kayu sebagai tapak lantai. Besi-besi penguat dinding dan triplek yang begitu banyaknya –kalau dijajar bisa sepanjang dua kilometer.
Memang, biar pun dinding gedung-gedung itu masih sangat baik, ArtSubs membuat dinding baru untuk melapisinya: agar sesuai dengan kebutuhan pameran lukisan.
Saya diajak cucunya Pak Iskan nonton ArtSubs Senin sore lalu: saya kaget. Tumben, pameran seni di Surabaya didatangi begitu banyak pengunjung.
Kami ditemani salah satu advisory board ArtSubs, Aris Utama yang rupanya teman gila sepedanya cucu Pak Iskan.
Anda sudah kenal Aris Utama: suami artis Olga Lydia itu.
Yang saya juga merasa beruntung: pemrakarsa ArtSubs sedang ada di pameran. Para kolektor lukisan tahu siapa orang itu: Rambat. Ya, namanya satu kata: Rambat. Ups… ada juga istrinya.
Rambat orang Bali. Tinggal di Kerobokan. Aslinya dari Lampung. Lahir dan sekolah sampai SMP di Lampung. Lebih aslinya lagi: Klaten. Orang tuanya kelahiran Klaten. Istrinya orang Gerobokan, Jateng.
“Setelah tamat SMP melanjutkan ke mana?” tanya saya.
“Tidak sekolah lagi,” jawabnya. “Bekerja apa saja, termasuk jadi tukang bangunan,” tambahnya.
—
Rambat anak transmigran. Sampai sekarang sang ayah masih jadi petani di Lampung Timur. Rambat berubah nasib setelah merantau ke Bali: juga jadi tukang batu. Lalu punya kenalan orang Bali.