“Memang terjadi kesalahan tata bahasa dalam pidato itu,” jawabnya. “Tapi kan biasa orang salah menggunakan tata bahasa. Termasuk orang Arab sendiri,” tambahnya. “Tokoh Indonesia pun banyak yang salah tata bahasa ketika berpidato dalam bahasa Indonesia,” katanya lagi.

Salah satu tokoh yang mengulas buku karya Kiai Miftachul Akhyar itu adalah KH Zulfa Mustofa. Anda sudah kenal dirinya: pernah dipuji sekaligus dihujat dalam kaitan dengan konflik besar di PBNU: mengapa Kiai Zulfa bersedia menjadi Pj Ketua Umum Tanfidiyah PBNU menggantikan Gus Yahya yang dipecat oleh Rais Aam Miftachul Akhyar.

Kiai Zulfa menulis ulasan panjang tentang buku itu. Ia mendapatkan bukunya karena pernah dibagi di kantor PBNU. Di tulisan itu Kiai Zulfa menceritakan pengalamannya ketika bersama Kiai Miftachul Akhyar pergi keliling beberapa negara termasuk Turkiye.

Di Turkiye rombongan PBNU diterima oleh ulama besar di sana: seorang mufti yang juga menjabat menteri agama.

Dalam pertemuan itu Kiai Miftah lebih banyak diam. Kiai Zulfa pun menjelaskan ke tuan rumah bahwa karakter Kiai Miftah memang pendiam. Jawaban mufti Turkiye ternyata sangat diplomatis: “Sesungguhnya beliau banyak berbicara dengan keadaannya, bukan dengan lisannya”.

Itu, kata Kiai Zulfa, sangat tepat untuk menggambarkan sosok Kiai Miftah. “Itu juga tercermin di dalam buku karya beliau,” ujar Kiai Zulfa.

Misalnya, di buku itu ditulis: “Orang punya kewajiban memperbaiki hati setelah memperbaiki lisan,” dan juga “memperbaiki lisan tanpa memperbaiki hati adalah kefasikan dan kesesatan. Memperbaiki hati tanpa memperbaiki lisan adalah kesempurnaan yang belum sempurna. Sedangkan memperbaiki keduanya sekaligus adalah puncak kesempurnaan”.

Apakah buku yang ditulis Kiai Miftah itu tergolong baru? Ternyata tidak. Sudah banyak buku serupa terbit di banyak negara Islam.

Kiai Zulfa sendiri sudah menulis empat buku. Semuanya tentang ushul fikih. Padahal kiai Zulfa ”hanya” tamatan Aliyah (SMA). Kemampuan bahasa Arabnya luar biasa. Sampai ia mendapat gelar doktor honoris causa dari Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. Yakni doktor dalam sastra Arab. Itu tentu istimewa: Kiai Zulfa tidak pernah sekolah di negara Arab. Aliyahnya ia selesaikan di Pati, satu kelas dengan Gus Rozin yang juga terpilih sebagai Rais Syuriah PBNU.