Utang pun terbayar.
Tinggal satu utang lagi: menuliskan pengalaman pertama saya di Makassar saat transit lima jam dalam perjalanan pergi ke Manado dua hari sebelumnya.
Hari itu beberapa pengusaha gabung makan siang di Makassar. Di samping Nova dan suami ada David Gozal, Saiman Sutanto Chen, dan beberapa lagi. Termasuk teman-teman Disway Sulsel.
Saya pikir setelah melahap ikan kudu-kudu kami kembali ke bandara. Tidak.
“Mampir dulu ke kafe saya,” ujar David.
“Sempat? Masih ada waktu?”
“Mampir sebentar saja. Harus mampir,” ujar David.
“Saya kan pernah makan di sana?”
“Ada yang baru yang ingin saya pamerkan,” katanya.
Sebagai pemain kafe yang sudah puluhan tahun David pusing melihat persaingan kafe yang menjamur belakangan ini. Semua orang bikin kafe. “Toko bahan bangunan pun bikin kafe,” katanya. “Padahal saya tidak bisa buka toko bahan bangunan di kafe saya,” seloroh David.
David terus berpikir agar bisnis kafenya tetap hidup. Lalu muncullah musim bisnis baru yang terbaru: permainan Mahjong. David pun mengombinasikan kafe dengan Mahjong. Ia beli 10 meja Mahjong.
Saya harus melihatnya.
—
“Bisa main Mahjong?” tanya David.
“Tidak bisa. Cara main pun tidak tahu,” jawab saya.
“Hanya seperti remi, tapi ini pakai dadu,” jawabnya.
“Kalau remi saya bisa. Mahjong….,” saya tidak jadi meneruskan kalimat itu.
Sebagai orang pesantren, kata Mahjong itu sendiri sangat asing di telinga saya. Dulu, sesekali, saya dengar kata Mahjong kalau ada penggerebekan judi Mahjong oleh polisi. Jadi, di benak saya, Mahjong itu identik dengan judi: haram.
Pemahaman saya itu berubah berangsur. Ternyata apa saja bisa untuk judi. Termasuk golf, remi, dan sepak bola. Apa pun. Tergantung orangnya. Bukan salah Mahjongnya.
Waktu main remi di masa remaja dulu kami tidak pernah berjudi. Hanya untuk permainan antar teman. Ups… ternyata pernah judi juga: yang kalah harus menerima hukuman; telinganya dijepit dengan jepitan baju!
Perubahan kedua terjadi saat tiba-tiba seorang pengusaha melampiaskan kebahagiaannya kepada saya. Kenapa dia bahagia?