“Ternyata banyak yang bisa dipasok oleh perusahaan dalam negeri. Jangan semuanya impor,” ujar Gita.

Ini juga persoalan modal kerja.

Gita pun ingat: orang kepepet sering punya ide baru. Bisa lebih kreatif. Gita tahu, di bidang lain, banyak mesin yang dijual di Indonesia dengan sistem “sewa pakai”. Mesin apa saja. Mulai dari foto copy sampai mesin MRI: untuk kamar radiologi rumah sakit besar.

Ada produsen mesin MRI yang mau mesinnya ditaruh di satu rumah sakit tanpa bayar di depan. Membayarnya berdasar berapa kali dipakai oleh pasien di rumah sakit itu. Semacam bagi hasil.

Mungkin memang belum ada pabrik mesin pesawat yang mau dibeli dengan sistem sewa pakai. Perintis sistem ini adalah mesin foto copy. Lalu digital printing. Berkembang tak terkendali. Sampai pun kini ke mesin MRI.

Siapa tahu mesin pesawat juga bisa dibeli dengan cara itu. Mungkin saja produsen mesin pesawat dari Tiongkok mau dirayu untuk pakai sistem sewa pakai.

Kalau cara baru Gita berhasil order 80 buah N219 akan bisa diselesaikan tanpa terlalu mengganggu APBN. Dari sini PT DI bisa berkembang ke pasar komersial.

“Peru sudah memesan lima N219,” ujar Gita. “Satu perusahaan carter di Indonesia sendiri sudah order tiga buah,” tambahnya.

Gita juga mengincar pasar penerbangan perintis yang sangat besar di dalam negeri. Apalagi ada ketentuan: penerbangan perintis harus menggunakan pesawat bermesin ganda. “N219 sangat cocok. Bukan seperti selama ini, penerbangan perintis pakai pesawat bermesin tunggal,” katanya.

“Dari mana asal-usul bagian belakang nama Gita Amperiawan? Mana ada nama belakang orang Sunda Amperiawan?”

“Itu, kata bapak saya, karena saya lahir di tahun 1966, di saat istilah Ampera sangat populer,” kata Gita.

Waktu itu pelajar-mahasiswa memang berdemo hampir tiap hari meneriakkan Amanat Penderitaan Rakyat (Ampera): Tritura. Tiga tuntutan rakyat saat itu: bubarkan PKI, turunkan harga-harga, bubarkan kabinet. Itu 60 tahun lalu.

Rupanya ulang tahun ke 50 hari ini, bagi PTDI, bisa berarti ”Life begins at 50”. Dan bagi Gita sendiri, ”Life begins at 60”.(Dahlan Iskan)