Isu seperti itu tidak baru. Juga bukan baru terjadi di zaman Presiden Prabowo. Di semua zaman ada isu seperti itu. Sejak zaman kerajaan Tiongkok kuno. Selalu saja orang di sekitar pusat kekuasaan ingin terlihat ‘yang paling dekat’ dengan Presiden. Atau ‘yang paling dipercaya’ Presiden.

Padahal Presiden sendiri bisa jadi tidak percaya siapa pun. Seperti di zaman Pak Harto dulu. Sebagian orang percaya Ali Murtopolah orang kepercayaan presiden di bidang politik. Lalu Sudjono Humardani-lah orang yang paling dipercaya dalam hal spiritual. Seolah Sudjono itu guru kebatinannya Pak Harto.

Ternyata Pak Harto sendiri mendengar isu seperti itu. Ketika belakangan Pak Harto menerbitkan buku, jelaslah semuanya. Menurut Pak Harto justru Sudjono yang berguru soal kebatinan ke Pak Harto. Dan Ali Murtopo dengan gampang “dibuang” begitu saja.

Memang isu di luaran biasanya lebih gawat dari kenyataan sebenarnya. Orang Madura punya istilah yang amat pas untuk menggambarkan itu: wat menggawat. Digawat-gawatkan.

Bagaimana cara melupakan dengan cepat isu-isu di medsos? Mudah. Tetaplah selalu sibuk. Anda yang sedang menekuni dunia usaha konsentrasilah di usaha Anda. Bikinlah target capaian sedikit lebih tinggi dari kemampuan Anda. Politik tidak akan bisa menyelamatkan Anda. Hanya Anda sendiri yang bisa mengatasi kesulitan Anda. Politik tidak akan membantu Anda.

Suhu politik memang sedang tinggi. Ada mal yang sudah mulai bikin pagar baru yang lebih tinggi. Rasanya itu agak berlebihan –mungkin karena terlalu banyak mengikuti masalah-masalah yang wat menggawat di medsos.

Padahal Anda tidak boleh lupa: medsos juga bisa dipakai untuk operasi intelijen. Pihak lawan juga menggunakannya untuk operasi kontra-intelijen. Anda bukan bagian dari keduanya kan? Tidak usahkan memihak. Untuk apa memihak-mihak –yang itu berarti Anda termakan operasi intelijen atau kontra intelijen? (Dahlan Iskan)