Paginya, menjelang jadwal semifinal saya sudah di depan TV. Isinya masih komentar-komentar mengenai Maroko v Prancis. Saya tidak tahu yang dibincangkan tiga komentator itu. Tidak mengerti itu baik agar saya tidak terpengaruh komentator.
Pukul 08.00 tiba. Kok belum pindah ke stadion di Amerika. Lewat tiga menit pun masih tetap adu komentar. Jangan-jangan saya salah lihat jadwal. Saya pun buka internet: tidak salah. Pertandingan sudah dimulai. Sudah lima menit. Posisi masih kacamata.
Akhirnya saya pelototi layar TV itu. Kok tiga komentatornya seperti sedang membicarakan jalannya pertandingan. Dari raut wajah mereka saya ambil kesimpulan: tiga komentator itu menghadap layar TV yang sedang menayangkan semifinal Piala Dunia secara live. Lalu mengomentarinya untuk pemirsa.
Rupanya Rusia tidak hanya dilarang bermain di Piala Dunia bahkan dilarang siaran langsung. Atau, Putin kalah dengan Prabowo: berani bayar mahal untuk mendapat hak siar secara langsung agar rakyat Indonesia bisa menonton secara gratis.
Gubernur Papua kelihatannya mendukung habis program Piala Dunia Prabowo. Sang gubernur Senin lalu meliburkan pegawai negeri di sana. Final Piala Dunia Spanyol-Argentina itu memang baru selesai pukul delapan pagi waktu Papua. Ups..ternyata berita ini hoax. Pemprov Papua sudah mengklarifikasi bahwa berita itu tidak benar.
Bagi saya sendiri pertandingan yang mengesankan adalah saat Jepang lawan Brasil. Lalu Inggris lawan Argentina –khusus di babak pertamanya.
Kali ini final Piala Dunia benar-benar ”kelas final”: paling menarik. Sering dalam event besar seperti Piala Dunia semifinalnya lebih menarik daripada final.
Tapi menonton tanpa memihak sangatlah tidak asyik. Maka saya lebih tertarik memperhatikan dua atraksi di Piala Dunia: atraksi tim Norwegia dan pertunjukan musik di final.
Setiap kali Norwegia menang, seluruh pemain duduk berjajar di tengah lapangan. Mereka membentuk formasi siap mendayung kapal. Sebuah tambur di depan mereka. Begitu tambur dipukul gerakan dayung serentak dilakukan. Diikuti teriakan keras bersama. Gerakan itu diikuti oleh seluruh suporter Norwegia di tribun stadion. Kian lama pukulan tambur kian cepat. Negitu juga gerakan mendayung dan teriakan serentak itu: HUH !