Oleh: Dahlan Iskan

MENONTON sepak bola itu harus memihak. Itu baru asyik. Ada sedikit tegangnya. Tidak memihak tidak asyik sama sekali. Contohnya saya.

Mungkin itu karena saya mantan wartawan. Sudah terbiasa tidak memihak –kecuali yang bertanding klub yang satu itu. Tapi redaktur olahraga di koran saya dulu, tidak hanya memihak; ia fanatik tim Jerman. Namanya Johny Kwee –meninggal tiga tahun lalu.

Ketika tim Jerman sudah ketinggalan gol pun ia begitu yakin pasti bisa membalas.

Johny keras sekali dalam memperlakukan wartawan olahraganya. Begitu naskah wartawan itu diserahkan kepadanya, si wartawan tidak boleh pergi. Harus menunggu sampai naskahnya ia baca. Begitu ia temukan si wartawan salah eja dalam menulis nama pemain sepak bola tidak ada ampun: si wartawan diminta menulis nama pemain bola itu secara benar sampai seratus kali. Pakai tulisan tangan. Nama-nama pemain bola luar negeri kadang memang sulit dieja.

Di Piala Dunia 2026 ini saya tidak pernah sampai membatalkan perjalanan karena harus nonton siaran langsung. Pertandingannya memang sering antara pukul 12.00 atau pukul 16.00 waktu timur Amerika-Kanada. Pada jam seperti itu biasanya saya sedang berkendara di perjalanan. Dari satu kota ke kota lain. Hanya ketika saya sudah tiba di Vladivostok, pertandingannya pagi waktu Rusia timur.

Meski Rusia diboikot dari Piala Dunia tapi saya yakin akan ada siaran sepak bola di TV Vladivistok. Memang sudah dua kali Piala Dunia Rusia dilarang ikut serta –sejak melakukan pengambilalihan wilayah Crimea dari Ukraina. Waktu itu Rusia sedang ikut babak penyisihan menuju Piala Dunia di Qatar.

Dari begitu banyak channel di TV di hotel itu saya temukan ada satu channel khusus olahraga. Channel itu selalu menyiarkan potongan-potongan pertandingan Piala Dunia. Selalu juga memutar ulang pertandingan sehari sebelumnya; dengan komentator Rusia dalam bahasa setempat.

Berarti, besok pagi, di semifinal Maroko lawan Prancis akan disiarkan di channel ini, kata saya dalam hati. Maka channel itu pun saya biarkan hidup terus sepanjang harmal.