Redmi bukanlah satu-satunya produsen yang melirik potensi pasar ponsel layar jumbo. Digital Chat Station juga mengungkapkan bahwa Honor tengah mengembangkan perangkat serupa dengan layar 7 inci yang bahkan dibekali refresh rate hingga 185Hz. Honor juga dilaporkan menyiapkan model lain dengan layar 6,89 inci yang akan ditenagai chipset berbasis fabrikasi 2 nanometer.
Persaingan ini menunjukkan bahwa produsen ponsel mulai melihat kebutuhan konsumen akan layar yang lebih lega, terutama untuk konsumsi konten multimedia, produktivitas, dan mobile gaming. Tahun 2026 berpotensi menjadi titik balik di mana ukuran layar 7 inci atau lebih akan menjadi tren baru, menggantikan dominasi ukuran 6,7 hingga 6,9 inci yang selama ini dianggap sebagai batas maksimal kenyamanan penggunaan satu tangan.
Tantangan dan Harapan Konsumen
Membawa layar 7 inci ke dalam sebuah smartphone tentu menghadirkan tantangan tersendiri bagi produsen. Mereka harus memutar otak agar perangkat tetap ergonomis dan tidak terlalu berat saat masuk ke saku celana. Penggunaan baterai berkapasitas 10.000 mAh, sebagaimana dilaporkan, tentu menjadi jawaban atas kebutuhan daya tahan perangkat berlayar besar yang cenderung boros energi.
Bagi konsumen, hadirnya ponsel layar lebar ini memberikan opsi baru untuk menikmati pengalaman tablet dalam genggaman ponsel. Jika Redmi berhasil mengombinasikan layar besar, resolusi 2K, baterai super besar, dan performa flagship dalam satu paket dengan harga kompetitif, perangkat ini dipastikan bakal menarik perhatian besar.
Kita tentu menantikan pengumuman resmi dari Redmi mengenai spesifikasi final dan kapan perangkat ini akan mulai dipasarkan. Apakah tren layar 7 inci ini akan mengubah perilaku konsumen dalam menggunakan smartphone? Kita tunggu saja perkembangan industri teknologi di sisa tahun 2026 ini. Yang pasti, kehadiran perangkat dengan layar melampaui batas standar saat ini akan menjadi pemandangan menarik di pasar ponsel global.