Melihat itu secara tidak sadar anggota rombongan memeragakan mulut masing-masing sampai berbentuk 2-7-2-7. Itulah bentuk senyum yang sempurna. Bukan dibuat-buat meski awalnya sengaja dibuat, bahkan dipaksakan. Angka itu bukan hanya menyimbolkan bentuk mulut tapi juga durasi. Senyum itu tidak boleh sekejap.

Pemaksaan senyuman itu awalnya ”sangat kejam”. Tanpa setahu karyawan dipasanglah kamera tersembunyi. Lalu terekamlah ekspresi asli karyawan Bank BCA. Sungguh lucu-lucu ekspresi mereka saat itu. Banyak yang judes menjengkelkan. Mungkin begitu juga wajah kita semua seandainya direkam video tersembunyi.

Video asli itu lantas ditunjukkan ke para pemilik wajah. Tidak ada teguran. Tidak pula dimarahi. Dengan melihat wajah asli itu mereka sendiri malu. Lalu berubah. Perubahan terus dimonitor. Dievaluasi. Sampai jadi budaya senyum Bank BCA: senyum 2-7-2-7.

Maka di akhir acara, ketika rombongan pengusaha Disway berfoto bersama Wani, salah seorang memberi komando: 2727! Semua wajah pun tersenyum ala senyum Bank BCA.

Wani juga mempresentasikan formula vampire di lingkungan kerja. Awalnya mayoritas karyawan Bank BCA adalah tipe vampire. Yakni karyawan yang bisanya komplain, menghasut yang lain, dan malas. Dia menyebut itu vampire karena bisa membunuh semangat karyawan lain yang mau bekerja baik.

Yang seperti itu, kata Wani, tidak bisa diubah oleh hanya satu orang baik di lingkungan banyak vampire. Justru yang baik itu ketularan jadi vampire. “Tipe vampire akan terus ada, tapi tidak boleh banyak,” katanyi.

Banyak sekali yang ditularkan Wani ke rombongan bisnis ini. Termasuk bagaimana merekrut karyawan baru. Dua hal yang penting dalam rekrutmen masa kini: wawancara dan melihat isi medsos calon karyawan. Ijazah, nilai, CV memang perlu tapi wawancara dan melihat isi medsos lebih penting.

Pertanyaan di wawancara itu pun bagi Wani yang sederhana saja: disuruh bercerita tentang kehidupan keluarga calon karyawan. Dari situ bisa diketahui apakah mereka dari keluarga berpikir positif atau keluarga yang menderita batin.