Finnews.id – Lifestyle Badan Gizi Nasional (BGN) merevisi sejumlah kebijakan setelah kasus korupsi menyeret para petingginya. Dari langkah-langkah yang diambil, penghentian sementara tidak masuk daftar.

Lalu, mengapa Presiden Prabowo Subianto tak memutuskan untuk menyetop makan bergizi gratis (MBG), seperti yang diminta sebagian masyarakat?

Menurut BGN, tujuan besar dari langkah-langkah ini adalah “penataan kembali” (refocusing) program MBG. Belakangan ini, mereka melontarkan bermacam rencana untuk perbaikan kebijakan secara keseluruhan.

Selama masa libur sekolah, misalnya, BGN berujar bahwa MBG tidak dikirim. Insentif untuk Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), atau dapur MBG, pun dihentikan. Selain itu, target penerima manfaat MBG akan dikoreksi.

BGN mencontohkan sedang mempertimbangkan mencabut kelompok siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) dari cakupan penerima MBG.

“Jadi, fokusnya bukan lagi kepada kuantitas, tapi kepada kualitas. Selain kualitas SPPG, ke depan juga diharapkan ada perbaikan dari segi efisiensi,” papar Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) Republik Indonesia, Muhammad Qodari, di Jakarta, Rabu (17/06).

Demo menolak MBG, beberapa waktu terakhir, mencuat ke permukaan, dimotori dari elemen mahasiswa sampai perempuan. Minggu kemarin, aliansi sipil menggeruduk serta ‘menyegel’ kantor BGN. Tuntutannya: setop MBG.

Aksi tersebut terjadi tak lama usai Kejaksaan Agung (Kejagung) meringkus petinggi BGN, dari Dadan Hindayana, Sony Sonjaya, serta Lodewyk Pusung, dalam kasus dugaan korupsi tata kelola program MBG.

Keputusan untuk merevisi taktik maupun implementasi MBG diakui Ketua CISDI, Diah Satyani Saminarsih, “lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali”.

Meskipun, sebetulnya, andai BGN—atau pemerintah—mendengarkan masukan banyak pihak sejak awal, kerusakannya tak akan separah ini.

“Sekarang, mungkin, karena ada tuduhan korupsi dan lain sebagainya, jadi menunjukkan usaha-usaha, upaya-upaya, yang baik,” tegasnya.

“Saya hanya berharap bahwa ini tidak terlambat. Dalam arti, mau diapain juga sudah keburu [kejadian]. Ada sentimen yang amat sangat negatif sehingga susah untuk memperbaiki.”