Di lingkungan Keraton, perayaan ini berlangsung dengan sangat khidmat. Ritual Jamasan Pusaka menjadi agenda pembuka, di mana berbagai benda sakral dibersihkan dan dimandikan sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur. Selain itu, para abdi dalem biasanya mengarak kekayaan hasil bumi berupa gunungan tumpeng melalui kirab benda pusaka.
Salah satu tradisi yang paling ikonik di Keraton Yogyakarta adalah Mubeng Beteng. Ribuan orang berkumpul dalam diam untuk mengelilingi benteng keraton. Menariknya, mereka melakukan kirab ini tanpa alas kaki dan tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Suasana bisu tersebut melambangkan sebuah perjalanan lahir batin yang suci dan murni.
Selain itu, terdapat pula tradisi ruwatan dan tapa brata yang dilakukan oleh masyarakat luas sebagai bagian dari upaya membersihkan diri dari segala keburukan masa lalu. Semua tradisi ini membuktikan bahwa Malam 1 Suro bukan sekadar mitos belaka. Ini adalah ilmu pengetahuan lokal yang sangat kompleks, yang memadukan astronomi tradisional, psikologi spiritual, hingga ekologi budaya dalam satu bingkai tradisi yang agung.
Dengan memahami akar budaya ini, kita tidak hanya menghargai sejarah, tetapi juga merawat kearifan lokal yang telah menjaga harmoni kehidupan masyarakat Jawa selama berabad-abad. Perayaan Malam 1 Suro menjadi pengingat bagi setiap individu untuk selalu mawas diri dan menjaga keseimbangan hidup di tengah dinamika zaman yang terus berubah.