Finnews.id – TEKNO Gelombang digitalisasi sempat memicu spekulasi bahwa profesi pembaca berita konvensional akan segera punah.

Narasi ini diperkuat oleh keputusan beberapa stasiun televisi global hingga lokal yang mulai memperkenalkan avatar berbasis Artificial Intelligence (AI) sebagai presenter pemandu acara.

Namun, seiring berjalannya waktu, euforia pemanfaatan teknologi canggih ini mulai membentur realita ruang siar.

Sejumlah pakar komunikasi dan akademisi media menilai bahwa penggunaan presenter virtual saat ini masih jauh dari kata efektif, bahkan cenderung menurunkan kualitas jurnalisme TV itu sendiri.

Televisi berita bukan sekadar media penyampai teks berjalan yang bisa digantikan oleh algoritma sintesis suara dan visual 3D yang dinamis.

Kehilangan Jiwa: Tiga Batasan Fatal Pembaca Berita Robot

Menurut kajian akademis terhadap perilaku penonton dan psikologi komunikasi massa, ada beberapa faktor mendasar yang membuat presenter AI belum bisa menyamai efektivitas manusia di kamera depan:

1. Nihilnya Aspek Empati dan Kecerdasan Emosional ( EQ )

Jurnalisme Penerbitan sangat bergantung pada cara sebuah informasi disampaikan secara emosional. Saat membacakan berita duka seperti bencana alam atau tragedi kemanusiaan, penonton mengeluarkan intonasi, menyampaikan mata, dan gestur tubuh yang menunjukkan empati tulus. Presenter AI, meski memiliki akurasi visual yang mendekati nyata, tetap menghasilkan ekspresi mikro (micro – expressions ) yang hambar dan mekanis.

2. Ketidakmampuan Merespons Situasi Darurat ( Breaking News )

Kekuatan terbesar dari seorang pembaca berita profesional adalah kemampuan improvisasi saat terjadi berita terkini atau gangguan teknis di lapangan. Manusia mampu melakukan sintesis informasi secara instan, mengajukan pertanyaan kritis yang spontan saat wawancara interaktif, dan membaca situasi sosiologis penonton. Sebaliknya, AI hanya bisa beroperasi berdasarkan naskah data yang sudah diumpankan ( pre-programmed data ) sebelumnya.

3. Kredibilitas dan Kepercayaan ( Trust ) Penonton yang Rendah

Komunikasi massa yang sukses dibangun di atas fondasi kepercayaan antara penonton dan tokoh masyarakat yang menyapa mereka setiap hari. Penonton cenderung lebih percaya pada informasi yang keluar dari mulut jurnalis yang memiliki reputasi, rekam jejak, dan akuntabilitas moral. Sosok avatar digital sering kali dipandang hanya sebagai gimik teknologi visual, bukan sumber kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan.