Finnews.id – LIFESTYLE Fenomena mengapa konten kreator asal Barat (seperti dari Amerika Serikat, Inggris, atau Eropa) sangat dominan dan selalu identik dengan konten makanan—mulai dari tren mukbang yang diadaptasi, food vlogging, tantangan makan ekstrem, hingga video masak estetik—bukanlah hal yang kebetulan.
Ada perpaduan antara budaya, kekuatan industri hiburan, hingga algoritma media sosial yang membuat mereka begitu lekat dengan genre ini. Berikut adalah beberapa alasan utamanya:
1. Industri Hiburan dan Food Network yang Sudah Matang
Jauh sebelum YouTube dan TikTok lahir, masyarakat Barat (khususnya Amerika Serikat) sudah memelopori industri kuliner berbasis hiburan.
- Pelopor Acara Memasak: Stasiun televisi seperti Food Network telah melahirkan ikon global seperti Gordon Ramsay, Jamie Oliver, Anthony Bourdain, hingga Martha Stewart sejak dekade 90-an dan 2000-an.
- Transisi ke Digital: Ketika media sosial berkembang, kultur “menonton orang memasak dan makan” yang sudah matang ini bertransisi dengan sangat mulus ke platform digital. Kreator Barat tinggal memindahkan formula TV yang sudah sukses ke format yang lebih kasual dan interaktif.
2. Standar Visual yang Tinggi dan Estetika Konten
Kreator Barat dikenal sangat jeli dalam memanfaatkan aspek visual untuk memanjakan mata penonton (food porn).
- Teknik Sinematografi: Penggunaan kamera berkualitas tinggi, pencahayaan yang dramatis, hingga audio Close-Up yang menangkap suara renyah makanan (ASMR) sering kali dipopulerkan oleh kreator Barat.
- Daya Tarik Universal: Konten makanan bersifat universal. Tanpa perlu memahami bahasanya, visual keju yang meleleh, daging yang berair, atau kue yang mengembang sempurna sudah cukup untuk membuat penonton dari belahan dunia mana pun terpaku.
3. Budaya Porsi Besar dan Eksperimen Ekstrem
Daya tarik utama dari konten makanan di media sosial adalah kebaruan dan kegilaan. Dalam hal ini, budaya kuliner Barat memiliki magnet tersendiri.
- Ukuran Porsi (“American Size”): Budaya makan porsi besar di Amerika (seperti burger raksasa, pizza satu meter) secara alami sangat cocok untuk konten jenis food challenge atau mukbang ekstrem yang memicu rasa penasaran netizen.
- Inovasi dan Eksperimen: Kreator Barat sangat gemar melakukan eksperimen makanan yang tidak biasa (misalnya: menggoreng makanan yang tidak biasa, mencampur saus ekstrem, atau membuat replika makanan raksasa). Hal ini sangat efektif untuk memancing click-through rate (CTR) yang tinggi.
4. Akses Komunitas Global dan Bahasa Internasional
Bahasa Inggris sebagai bahasa internasional memberikan keuntungan besar bagi kreator Barat.
- Jangkauan Global: Ketika seorang kreator Barat mengulas makanan, audiens mereka tidak terbatas pada negara asal mereka saja, melainkan mencakup seluruh dunia.
- Pertukaran Budaya: Mereka sering kali membuat konten mencoba makanan dari negara lain (misalnya, reaksi orang Barat makan makanan Indonesia). Konten reaksi (reaction video) seperti ini selalu berhasil menarik perhatian netizen lokal karena rasa penasaran bagaimana lidah asing menilai kuliner mereka.
5. Nilai Komersial (Ekosistem AdSense dan Sponsor) yang Kuat
Dari sisi bisnis digital, konten makanan adalah salah satu genre yang paling menguntungkan (high-yielding niche).
- Nilai CPM/CPC yang Tinggi: Kreator di negara Barat memiliki nilai iklan (CPM) yang jauh lebih tinggi. Industri kuliner dan restoran di sana rela menggelontorkan dana besar untuk iklan digital.
- Sponsorship Melimpah: Mulai dari perusahaan peralatan dapur, aplikasi pesan-antar makanan, hingga merek bahan makanan siap saji, semuanya mengincar kreator makanan karena konversi penjualannya yang sangat tinggi.
Orang Barat begitu identik dengan konten makanan karena mereka berhasil mengawinkan kultur hiburan kuliner yang sudah mengakar dengan teknik produksi digital yang modern.